Kamis, 16 April 2026

Coretan

Rautan Pensil

Oleh: Dina. S


Ku berharap kamu bertanya

Seberapa gram serbuk; atau

Seberapa banyak gulungan lembut

Dari sisa sayatan pensil yang kamu buang


Ku kecup dirimu saat kamu bermimpi tentangnya

Membisikan beberapa kata tentang cinta

Tak pernah kamu sadari

Karena kecilnya suaraku


Sambutlah diriku diujung pintu

Jambak atau cambuk diri ini

Penuhi goresan yang lama menumpuk

Tumbuhkan dan penuhi halamanmu dengan cinta

Selasa, 17 Maret 2026

Coretan

Influenza

Oleh: Dina. S


Terkuras habis tenagaku

Untuk menahanmu yang ingin pergi

Ku tukar duniaku yang sepi

Agar warnamu tak lagi ditutupi


Biar waktu luangku pun menghilang

Melintang berjalan keluar bersama

Berkeliling mencari celah

Dari kehidupan yang sama keruhnya


Ku bedah dan merenungkan kembali

Semua tentangmu yang masih ku rindu

Diurutkan kata yang tak punya makna

Bagaimana ku bisa lupa kita pernah saling cinta

Jumat, 06 Maret 2026

Coretan

Jalan Hantu

Oleh: Dina. S


Ku lihat pedagang kayu bersama anaknya yang bungsu

Potongan kayunya diikat, ditumpangkan di atas sepeda

Dengan kuat mereka mendorongnya menuju kota


Di belakangnya si pemotong kayu menyusul dengan pelan

Wajahnya kusut dan keringat membanjiri badannya

Satu perkakas yang dia bawa

Namun meski satu, ukuranya besar

Dan berpijar saat terkena cahaya


Jalan berhantu selalu dipenuhi misteri

Hari ini bercerita tentang kayu, kemarin pedagang batu

Di luar mereka perkasa dengan mata tak punya karsa

Sebenarnya mereka sedang berputus asa

Dan menunggu waktu untuk bercerita

Cerita sama yang pernah ku lihat

Bedanya kali ini ada si pemoles menunggu di kota

Rabu, 04 Maret 2026

Coretan

Tahun Lalu

Oleh: Dina. S


Ku kembalikan kertas yang pernah ku rebut

Yang kau penuhi ribuan skenario palsumu

Ingin ku marah untuk menaruh luka terbaik

Yang belum pernah kamu miliki sebelumnya


Ingin sekali ku bisa mengurangi sesal ini

Berharap pertemuan itu akan segera terjadi

Jika kamu dalam keadaan baik;percayalah

Cukup sekejap ku mampu menundukkanmu


Aku mampu menjatuhkaanmu ke tempat yang paling dalam

Membuat air matamu terpencar

Tiada teman, hanya lampu jalan yang menuntun pulang

Dan berakhir menjadi manusia yang paling muram

Coretan

Jam Dua Malam

Oleh: Dina. S


Duniaku tak pernah terpusat padamu

Namun saat ku benahi rumahku

Namamu pernah tergulung sedikit

Tapi cukup lama menetap di sana


Ku bergumam tentangmu juga 

Saat dua kali melemparkan koin

Di sungai dekat bulan menaiki awan;lalu

Ku salin senyummu yang merekah itu


Penantianku berakhir di jam dua malam

Ketika gerimis memuncak keheningan

Terhapuslah hadirmu saat itu

Celah yang kamu buat sendirian pun tertutup

Senin, 02 Maret 2026

Coretan

Sedikit Saja

Oleh: Dina. S


Jangan berfikir ada aku di tepi, saat kamu terapung

Jika benar itu terjadi mungkin aku telah lama pergi

Dan benar adanya, hari ini kamu pun terhapus

Dalam segala diksi yang terikat dunia imajinasiku


Aku yang kini masih utuh, mungkin akan runtuh

Cinta yang pernah terarah pada satu nama

Kan pudar, menghilang dan benar-benar tak kembali

Jika harimu terasa sepi, dengarkan jeritan yang ada di hati


Suara ributnya terasa sesak

Aroma menjelma seperti bibir yang mencibir

Menusuk hingga ujung rusuk

Akan menjadi kunci, setelah kamu buka sedikit saja

Minggu, 01 Maret 2026

Coretan

Perbaikan

Oleh: Dina. S


Pakaian apa yang akan ku kenakan sore nanti?

Apakah kemeja biru atau kaos berlengan putih?

Tapi untuk apa ku pikirkan itu semua

Jika kamu belum siap untuk bertemu


Ku pelajari untuk bisa tersenyum

Pada pantulan gelas kaca toko depan rumah

Lewat ponsel ku tangkap gambaran diri

Namun kamu tetap menutup hati saat kita bertemu


Salam yang terhangat ku menyapamu

Dengan erat ku masih genggam rasa cinta

Dalam sebutir doa yang ku gulir pagi ini

Ku berharap kau tak pergi lagi hingga kisahku berakhir


Jika ku tahu apa yang telah terjadi

Mungkin kamu takkan pernah di sini

Seandainya aku juga memahami semua ini

Kita bisa merubah jarak yang telah lama sepi

Jumat, 27 Februari 2026

Coretan

Foto Copy

Oleh: Dina. S


Bulan kemarin malam tak sempurna

Tapi keindahannya menyajikan ketenangan

Apakah kamu melihatnya juga?

Di tempatmu yang sedikit sepi itu


Harusnya ku memberikanmu sebuah selimut

Jika kamu ingin, bisa ku nyanyikan sebuah lagu

Agar kamu tidur sejenak dalam hangatnya dekapanku

Dan kuusap rambut, kukecup kedua matamu saat pagi tiba


Ku berharap kamu melihat langit yang sama

Duduk atau bersandar di pagar balkon rumah

Lalu mengucapkan kata yang tak jauh berbeda

Dengan perasaan kita berdua


,"Maaf jika sedalam ini".

Kamis, 26 Februari 2026

Coretan

Buah Delima

Oleh: Dina. S


Bisakah aku pergi tanpamu, saat ku tahu

Kamu bukan tempat terakhirku

Liar perangaimu menelanku perlahan

Lalu melucuti timbunan rasa kasihku


Ijinkan aku petik hatimu

Pinjam sekali, biar bermekaran berhari-hari

Ijinkan juga memelukmu sekali

Tuk tebaskan ingatan akan hari itu


Menebus luka yang menjalar hina

Yang kau cambuk hingga menghujam biru

Meski tak kering, ku ingin hapus hari ini

Bukti telah larut akan perjalanan yang jauh


Bolehkah aku bertanya?

Apakah hari ini kamu masih ada

Rabu, 18 Februari 2026

Coretan

Lampu Tengah

Oleh: Dina. S


Ku melupakannya karena ku kecewa

Lalu sakit karena coba untuk ingat; dengan 

Bersandar di batas kesunyian

Meraung dalam rongga yang kedap


Kemarin,,


Tahan sendiri karena keindahannya; dia

Sigap memelukku dalam selimut ketidaktahuan

Terjerat pada pola pertemanan

Lalu diam-diam mencomooh dari kejauhan


Aku lupa untuk apa hadir di sini

Berperangai bagai raja padahal hanya si pelupa

Untuk yang satu,

Tetaplah menyokong agar selalu ingat; biarkanlah

Ku tumbuh karena tahu akan berjumpa

Coretan

Baca Buku

Oleh: Dina. S


Entah bagaimana caranya mendapatkan dia

Dia yang tak pernah menganggapku ada

Atau bisakah aku segera membisikkannya saja

Seperti menaburkan kaldu kedalam gulai


Entah bagaimana rupaku di matanya

Apakah dia pernah terjaga untukku juga

Seperti nadir menjelebab dalam kesemuan

Memeras waktu kini, agar luang saat kami jumpa


Ku menimangnya selalu meski jauh

Lalu menutup dan menjatuhkannya

Dengan cibiran ribuan kali menipu diri


Seisi kepalaku ku sebut dirinya

Preman kecil yang menolak kehadiranku

Diamnya pun terasa sangat menyiksa batin


Ku ingin dia menjeritkan namaku

Saat di sendiri dalam kegelapan

Agar sesak yang kami rasa

Melonggar berganti dengan senyum memekar

Minggu, 15 Februari 2026

Coretan

Dua Ribu

Oleh: Dina. S


Lupa pernah ditunggu, meriahnya selalu dirindu

Berharap malam itu tak merelakan kita pergi

Biar hening tak menyambung di esok hari

Tersemat di beranda buku-buku pengikutnya


Ku bukan perasa seperti pujangga

Hanya seorang anak sapi yang memakan rumput

Susunya diperas dan dagingnya dipanggang


Ku tak bisa lelah dan tak bisa serakah

Karena ayahku kerbau yang tenaganya dikuras

Untuk melindas tanah-tanah yang keras


Aku atau kamu adalah dua ribu

Bersorak dan saling merangkul tak ada tabu

Kami dan kalian bukan dua ribu

Lepas dalam jemari pergi sendiri-sendiri

Kamis, 12 Februari 2026

Coretan

Dasi

Oleh: Dina. S


Kamu membuatku menunggu lama

Tunjukan arah tempatmu saat ini

Ku putar gelombang agar ku menemukanmu

Beri tahulah, ku kan segera menemuimu


Ku tak berharap bagaimana orang melihatku

Sinis yang kurasa dalam ruangan yang sesak

Meski bias berharap pudar ketika kamu ada

Menuntun saat mereka mengutukku sampai pintu


Ku ingin menempatkanmu di dadaku

Menutup segala resah saat gugup menekanku

Sulit agar segalanya menjadi nyata

Setidaknya, kita berdua bisa mendapatkan undian yang terakhir 

Sabtu, 07 Februari 2026

Coretan

Ibunya

Oleh: Dina. S


 Ibu yang selalu mendongengkan cerita yang sama. Dia benyanyi sembari berlenggak-lenggok bagai penari menghibur di Sabtu pagi. Ibu menyeret ribuan lonceng yang menempel di dinding loteng, lorong dari banyak menara dekat rumah. Dia menguburkan lonceng-lonceng itu agar ternaknya tumbuh hanya dengan seruan bersumber darinya.

 Matanya berbinar dan senyum yang ceria terpancarkan saat dia bercermin. Menyeimbangkan raut wajahnya agar terlihat serupa dengan gadis-gadis yang bergerumul di depan rumahnya dan yang sibuk berlarian menjemput keberagaman. Ibu merasa dirinya pialang di kota paling tua ini.

 Dia selalu menyapa dengan cara paling dalam agar tampak hangat. Satu-satunya literatur milik Ibu untuk membuat orang mau menanggalkan nama di pagar rumah. Orang-orang bergerumuh menyambutnya dari tiap perbatasan jalan. Lalu, Ibu membalas dengan lambaian tangan kembali masam saat memalingkan wajahnya.

 Ibu memeluk ternak kesayangannya tanpa adat. Menutup mata jika dia hanya budak bagi ternaknya. Mengalihkan gemerlap dunia dengan menutup mata dan mengulang nyanyian yang dia suka agar tak sadar akan suara alam yang tenang.

 Tak ada yang memberitahunya saat ibu mulai menyusun dongeng. Jika tiada yang peduli kebenaran di baliknya, karena mereka hanya butuh upah setelah mendengar Ibu bercerita. Kehampaan dari kisah kosong Ibu yang megelabui telinga, takkan mempengaruhi dan sedikitpun tak akan terperangah.

 Mungkin Ibu yang kulihat esok pun masih sama. Dan Ibu layak berkumpul bersama mereka dengan jiwa yang lelah, terpojok di sudut dan terkunci rapat.


-Selesai-

Rabu, 04 Februari 2026

Coretan

Judul: Jejak

Oleh: Dina. S


Kau yang tak pernah bisa ku gapai

Diam-diam memperhatikan

Lalu bergerak, dekati dengan singkat

Penabur perona pipi yang menggeliat


Diriku yang selalu mengagumimu

Suatu hari nanti yakin kita kan bertemu

Berdoa di ujung realita yang runtun

Coba menarikmu keluar dari mimpiku


Ku perlukanmu yang ingin hadir di hidupku

Berjalan menyatu di antara mimpi dan realita

Kau ingin tunjukan besar doa yang dipanjatkan

Mengindahkan kesetiaanku yang selalu menurutimu

Senin, 26 Januari 2026

Coretan

 -

Oleh: Dina. S


Ku ingin kamu hadir kembali dalam bingkai kacamataku yang tak lebih dari sejengkal ini

Saat kamu ada ku tak ingin kamu pergi, dalam ramai atau sepi tetaplah di sini

Ku ingin tetap menggenggammu dalam sajak-sajakku yang kau anggap palsu

Itulah asal kebahagianku, pengganti yang kamu renggut seenaknya


Ia memberi dan menunjukkan betapa luas serta indahnya alam

Namun bertemu denganmu, duniaku mulai sepi

Tabu menjadi rapuh, dilahap waktu yang rakus


Ku menanti bedanya peranmu seperti dalam mimpi

"Rubahlah duniamu yang sepi

Warnai setiap hari, pilihlah satu warna

Perangi dinginnya perangaimu"

Kamis, 15 Januari 2026

Coretan

Judul: Tolak Rapuh

Oleh: Dina. S


Dia yang terperangkap dalam gelap. Keteduhan yang terekam di antara semak belukar. Terkurung dengan nyanyian jeritan malam. Geram dari yang buas nyaris ciutkan nyalinya. Tergores berulang kali, tetap teguh karena menolak rapuh.

Matahari yang sengatannya masih sama seperti tawon di kebun bunda. Terpantik indah nama sang pujangga. Dia yang mengembara dari dua sisi yang jelas mengutuknya. Kembali berulah tanpa mengulang trauma, mencoba merangkap mimpi saat jumpa kesempatan kedua.

Kalimat-kalimat santun yang menyapu segelas kenangan. Menuliskan dengan tarian pena, guratan harapan akan suatu kesenjangan. Menyibak rindu yang menyekat, lalu rela berlama-lama mengisi pandangan. Menggulirkan waktu menua bersama.

Sabtu, 27 Desember 2025

Coretan

Judul: Sampel

Oleh: Dina. S


Apakah kamu akan tetap diam seperti itu;

meski dunia benar-benar akan berakhir?

Jilid per jilid kisah tentang kita

Tak mau disadari hanya mau dipungkiri


Kita yang takkan pernah sama

Dan tak menganggap ada

Sering mengiris luka

Berharap bisa diingat saat tak berduka 


Di balik kesunyian, kita menjadi pengganggu

Lebih dalam, berubah menjadi rasa kagum

"Jauh untuk kamu merupa di depan mata;namun

satu helai sarafku bisa mengorbit hati untuk memutarkan suaramu.."

Berikanlah satu pinta, kan ku ajukan yang terbaik


Menepilah, ku beri ruang jika kamupun mau

Gemakan kegigihanmu yang bulat itu

Jabat dengan erat tuk longgarkan segala ragu

Melupakan ribuan mimpi yang lama tergerus waktu

Selasa, 16 Desember 2025

Coretan

Siluet

Oleh: Dina, S


Ku harap ku masih bisa membopongmu

Menarikmu untuk menjauhi ruang kegilaan,

Menuntun ke sebuah lorong

Sepi atau ramai, kamu pantas ada di sana


Waktu yang sama rimanya

Namun ruang yang berbeda

Goresan yang tergurat, membentuk siluet

Kosong..., hanya arsiran hitam pekat yang terhampar


Meredamkan suara-suara

Meletupkan pandangan biar tak ada yang singgah

Jerit tanpa arti dipikul sendiri

Menumpuk cahaya saat jeda


Meski ku ragu untuk bisa sampai di tempatmu

Menamatkan geram yang menggilasmu

Ijinkanku menunjukkan tentangmu di ujung temaram

Sebagai siluet yang tetap gelap di tengah terang

Selasa, 18 November 2025

Coretan

Judul: Pulihlah

Oleh: Dina S


Karenanya, aku rindu masalalu yang sepi itu

Yang aku tak suka, yang sesak juga gelap

Karenanya, aku malu sudah mencoba berdiri sendiri

Bahkan berlari untuk sekedar menutup luka


Tiga sepermenit yang tak ku sadari kemarin

Membuai bagai rayuan; dan

Sebagian memaki bertubi-tubi; bagai pembajak

Harapan yang membelenggu kenangan


Ku selalu ingin melompati waktu

Saat bertemu atau berbagi kisah pilu

Namun dalam samar ku ingin mengaku

Besar rasa rinduku tentang laranya masalalumu


Kita sama-sama tahu

Dan mungkin akan selalu mencari tahu

Membeberkan yang telah lama kita tahu

Bekal dewasa saat bebas dari yang tak tahu

Coretan

Rautan Pensil Oleh: Dina. S Ku berharap kamu bertanya Seberapa gram serbuk; atau Seberapa banyak gulungan lembut Dari sisa sayatan pensil ya...