Sabtu, 07 Februari 2026

Coretan

Ibunya

Oleh: Dina. S


 Ibu yang selalu mendongengkan cerita yang sama. Dia benyanyi sembari berlenggak-lenggok bagai penari menghibur di Sabtu pagi. Ibu menyeret ribuan lonceng yang menempel di dinding loteng, lorong dari banyak menara dekat rumah. Dia menguburkan lonceng-lonceng itu agar ternaknya tumbuh hanya dengan seruan bersumber darinya.

 Matanya berbinar dan senyum yang ceria terpancarkan saat dia bercermin. Menyeimbangkan raut wajahnya agar terlihat serupa dengan gadis-gadis yang bergerumul di depan rumahnya dan yang sibuk berlarian menjemput keberagaman. Ibu merasa dirinya pialang di kota paling tua ini.

 Dia selalu menyapa dengan cara paling dalam agar tampak hangat. Satu-satunya literatur milik Ibu untuk membuat orang mau menanggalkan nama di pagar rumah. Orang-orang bergerumuh menyambutnya dari tiap perbatasan jalan. Lalu, Ibu membalas dengan lambaian tangan kembali masam saat memalingkan wajahnya.

 Ibu memeluk ternak kesayangannya tanpa adat. Menutup mata jika dia hanya budak bagi ternaknya. Mengalihkan gemerlap dunia dengan menutup mata dan mengulang nyanyian yang dia suka agar tak sadar akan suara alam yang tenang.

 Tak ada yang memberitahunya saat ibu mulai menyusun dongeng. Jika tiada yang peduli kebenaran di baliknya, karena mereka hanya butuh upah setelah mendengar Ibu bercerita. Kehampaan dari kisah kosong Ibu yang megelabui telinga, takkan mempengaruhi dan sedikitpun tak akan terperangah.

 Mungkin Ibu yang kulihat esok pun masih sama. Dan Ibu layak berkumpul bersama mereka dengan jiwa yang lelah, terpojok di sudut dan terkunci rapat.


-Selesai-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Coretan

Ibunya Oleh: Dina. S  Ibu yang selalu mendongengkan cerita yang sama. Dia benyanyi sembari berlenggak-lenggok bagai penari menghibur di Sabt...