Senin, 26 Januari 2026

Coretan

 -

Oleh: Dina. S


Ku ingin kamu hadir kembali dalam bingkai kacamataku yang tak lebih dari sejengkal ini

Saat kamu ada ku tak ingin kamu pergi, dalam ramai atau sepi tetaplah di sini

Ku ingin tetap menggenggammu dalam sajak-sajakku yang kau anggap palsu

Itulah asal kebahagianku, pengganti yang kamu renggut seenaknya


Ia memberi dan menunjukkan betapa luas serta indahnya alam

Namun bertemu denganmu, duniaku mulai sepi

Tabu menjadi rapuh, dilahap waktu yang rakus


Ku menanti bedanya peranmu seperti dalam mimpi

"Rubahlah duniamu yang sepi

Warnai setiap hari, pilihlah satu warna

Perangi dinginnya perangaimu"

Kamis, 15 Januari 2026

Coretan

Judul: Tolak Rapuh

Oleh: Dina. S


Dia yang terperangkap dalam gelap. Keteduhan yang terekam di antara semak belukar. Terkurung dengan nyanyian jeritan malam. Geram dari yang buas nyaris ciutkan nyalinya. Tergores berulang kali, tetap teguh karena menolak rapuh.

Matahari yang sengatannya masih sama seperti tawon di kebun bunda. Terpantik indah nama sang pujangga. Dia yang mengembara dari dua sisi yang jelas mengutuknya. Kembali berulah tanpa mengulang trauma, mencoba merangkap mimpi saat jumpa kesempatan kedua.

Kalimat-kalimat santun yang menyapu segelas kenangan. Menuliskan dengan tarian pena, guratan harapan akan suatu kesenjangan. Menyibak rindu yang menyekat, lalu rela berlama-lama mengisi pandangan. Menggulirkan waktu menua bersama.

Sabtu, 27 Desember 2025

Coretan

Judul: Sampel

Oleh: Dina. S


Apakah kamu akan tetap diam seperti itu;

meski dunia benar-benar akan berakhir?

Jilid per jilid kisah tentang kita

Tak mau disadari hanya mau dipungkiri


Kita yang takkan pernah sama

Dan tak menganggap ada

Sering mengiris luka

Berharap bisa diingat saat tak berduka 


Di balik kesunyian, kita menjadi pengganggu

Lebih dalam, berubah menjadi rasa kagum

"Jauh untuk kamu merupa di depan mata;namun

satu helai sarafku bisa mengorbit hati untuk memutarkan suaramu.."

Berikanlah satu pinta, kan ku ajukan yang terbaik


Menepilah, ku beri ruang jika kamupun mau

Gemakan kegigihanmu yang bulat itu

Jabat dengan erat tuk longgarkan segala ragu

Melupakan ribuan mimpi yang lama tergerus waktu

Selasa, 16 Desember 2025

Coretan

Siluet

Oleh: Dina, S


Ku harap ku masih bisa membopongmu

Menarikmu untuk menjauhi ruang kegilaan,

Menuntun ke sebuah lorong

Sepi atau ramai, kamu pantas ada di sana


Waktu yang sama rimanya

Namun ruang yang berbeda

Goresan yang tergurat, membentuk siluet

Kosong..., hanya arsiran hitam pekat yang terhampar


Meredamkan suara-suara

Meletupkan pandangan biar tak ada yang singgah

Jerit tanpa arti dipikul sendiri

Menumpuk cahaya saat jeda


Meski ku ragu untuk bisa sampai di tempatmu

Menamatkan geram yang menggilasmu

Ijinkanku menunjukkan tentangmu di ujung temaram

Sebagai siluet yang tetap gelap di tengah terang

Selasa, 18 November 2025

Coretan

Judul: Pulihlah

Oleh: Dina S


Karenanya, aku rindu masalalu yang sepi itu

Yang aku tak suka, yang sesak juga gelap

Karenanya, aku malu sudah mencoba berdiri sendiri

Bahkan berlari untuk sekedar menutup luka


Tiga sepermenit yang tak ku sadari kemarin

Membuai bagai rayuan; dan

Sebagian memaki bertubi-tubi; bagai pembajak

Harapan yang membelenggu kenangan


Ku selalu ingin melompati waktu

Saat bertemu atau berbagi kisah pilu

Namun dalam samar ku ingin mengaku

Besar rasa rinduku tentang laranya masalalumu


Kita sama-sama tahu

Dan mungkin akan selalu mencari tahu

Membeberkan yang telah lama kita tahu

Bekal dewasa saat bebas dari yang tak tahu

Coretan


 

Kamis, 13 November 2025

Coretan

Berputar

Oleh: Dina. S


 Dengan tergesa-gesa mereka menceritakan bagaimana dunia bekerja dengan sangat cepat. Seseorang dengan mata merah dan kelopak hampir menutup seluruh bola mata, sangat meledak-ledak menarasikan pengalaman yang sangat menakjubkan di depan matanya. 

 Dia memberitahukan seberapa jauh dan lamanya perjalanan, serta makanan yang bisa mereka ambil dari tempat itu untuk perbekalan satu musim. Mereka pun tak lupa menjelaskan perawakan penduduk di wilayah tersebut. Tidak lebih dari 1,5 meter dengan gigi yang tajan seperti kuku kucing. Luka yang dihasilkan dari gigitannya pun membutuhkan waktu yang lama untuk sembuh. Dia mejulurkan tangannya yang sempat digigit oleh salah satu anak penduduk tempat asing tersebut. Dengan setengah kesal dia mengumpat terbesit memori saat tergigit, "busuk!" Namun saat ketua suku menanyakan kembali secara rinci akan wilayahnya, kembali dengan berlinang air mata laki-laki bertubuh gempal itu bergumam akan angan jika ketua suku memiliki rencana untuk mengunjunginya. Dan tak lama, ketua suku pun dengan suara kekar dan kerutan di keningnya mengiyakan dan berusaha keras bisa merebut lalu memiliki wilayah yang tenang dan indah seperti diceritakan.

 Berbekal beberapa karung lobak dan garam yang akan dijadikan alat negosiasi. Gudang-gudang pun mereka tutup karena mereka berencana untuk segera merebutnya sebelum badai menyerang wilayah mereka. Badai asap dan debu yang sangat kuat. Asapnya yang panas bisa menembus daging diakhiri debu menutup sisa daging dari jasad yang terkoyak asap.

 Saat semuanya mengemasi barang bawaan, pengawal dari ketua suku menaiki rumah pohon untuk mencari anak gadisnya yang menangis bersembunyi. Dengan sedikit keberanian, anak itu tidak ingin ikut dan tetap bersama tupai kesayangannya. Namun, sang pengawal segera mengais dan perpisahan yag penuh haru pun terjadi di antara tupai dan anak gadis ketua suku. Di pangkuan pundak si pengawal, gadis dari ketua suku menangis sambil memperhatikan tupai yang sama sedihnya karena ditinggal.

 Berbagai macam pohon menghiasi tepian jalan. Lantas mereka sama sekali tidak akan pernah terkapar kelaparan jika cadangan makanan habis. Beberapa dari orang yang bertubuh gempal sibuk memetikkan buah untuk anak-anak kecil. Tanah yang subur pun mengantarkan beberapa bianatang yang bisa diburu, lalu sungai yang mengalir deras tidk di balik bukit yang selalu siap menghadang jika banjir datang.

 Seseorang berlari membawa ikan segar dari sungai, kemudian anak-anak berhamburan menuju sungai yang airnya jernih seperti yang dikatakan orang tersebut. Ketua suku pun mengikuti dari belakang dan mereka masih bersama saling berpegangan menuju tempat tersebut.

 Saat perjalanan menuju sungai, sekawanan serigala mendahuluinya. Mereka meneguk tiap tegukan air yang mengalir. Badan mereka kurus, beberapa ekor tewas seketika dan sisanya hanya mengalami dehidrasi dan kelaparan.

 Ketua suku menghampiri dengan membawakan daging, dia iris tipis lalu menyuapi serigala tersebut. Tanpa takut dia memangkunya dan menyerok air sungai untuk diteteskan sedikit demi sedikit di sudut paling dalam dari moncongya. Dia usap lalu kecup dan membaringkan kembali salah satu serigala. Yang kemudian di ikuti oleh yang lain sebelum benar-benar pergi meninggalkan kawanan serigala di tepi sungai.

 ...

 Setelah melewati satu hari penuh, mereka pun sampai di tempat tujuan. Tidak ada tanda kehidupan karena semuanya sudah habis oleh badai. Dengan segera mereka mendirikan tenda-tenda dari kain yang biasa mereka pakai untuk tidur. Beberapa dari mereka merasa kecewa karena ternyata ketua suku membohongi mereka. Mereka pergi hanya untuk memutar mendahului badai. Bukan serta merta mencari tempat singgah baru untuk mereka tinggali.

 ...

Sabtu, 01 November 2025

Coretan

Judul: Komposisi

Oleh: Dina. S


Seharusnya kita duduk bersama

Seperti dua sejoli yang memadu cinta

Dengan melodi yang menghangatkan jiwa

Menghirup gumpalan asap sup lalu bertukar cerita

.

.

.

.

Ku pijarkan kata perkata saat menangis rindu

Membiarkannya bercerai berai

Namun ku kan menyusunnya saat kita kembali

Menunjukkan dengan tenang sesuai urutan

Jumat, 31 Oktober 2025

Coretan

Jam Tujuh Belas

Oleh: Dina. S


Seandainya kita bertemu lebih dulu

Mungkin aku bisa menjadi yang terbaik

Namun betapa berharganya waktu

Ku biarkan diri ini berhenti dan tak ingin kembali


Jika dengan sengaja aku menunggu di tempat itu

Apakah kamu bsa melihatku secara utuh?

Tidak hanya saling memandang sepatu yang kita kenakan

Atau sekedar ujung topi lalu beralih kembali ke tepian pagar


Hanya karena kita tak sama

Kamu merasa terluka jika ku nilai liar

Namun kamu takkan melupakan

Ratusan kegaduhan yang ku buat kemarin malam


Jika kuremukkan lara dalam rongga terang cahaya senja

Mungkin kamu akan berlari jauh dengan luruh riang

Dan ku hancur di ujung remang hingga petang datang

Coretan

Komposisi

Oleh: Dina. S


Seharusnya kita duduk bersama

Seperti dua sejoli yang memadu cinta

Dengan melodi yang menghangatkan jiwa

Menghirup sup lalu bertukar cerita

...

Ku pijarkan kata perkata saat menangis rindu

Membiarkannya bercerai berai

Ku akan menyusunnya saat kita kembali

Menunjukkan dengan tenang sesuai urutan

Selasa, 14 Oktober 2025

Coretan

Kenangan
Oleh: Dina. S

 Wanita yang menjerit kemarin, kini dia menanggalkan pakaiannya di bawah lorong. Dia biarkan dirinya terendam air yang dingin. Menderetkan kenangan dalam awan-awan tipis karena tak ada satu dari mereka yang inginkan untuk lenyap meski sekejap. Membiarkannya membara separuh waktu lalu kembali terselip dalam butiran hujan. Berakhir meresap, menggeburkan tanah bersama bunga yang mekar cuma satu hari.

 Kenangan itu dibiarkan tumbuh menjadi penenun di taman bersama bunga. Dia tetap membisu hingga membiarkan serangga melumatinya. Saat ia jerat tubuh serangga seperti seekor pengerat, dia hentakkan kaki serangga itu lalu membiarkan sisanya ikut bersama.

 Angin tipis mengantarkannya dalam sebuah dahan. Tampak juga burung yang riang dengan cacing lembut di mulutnya. Lalu hinggap berjajar dengan serangga yang terhipnotis kenangan yang menjalarnya. Riuh yang semakin terdengar dari kicauan anak-anak burung membuat serangga terbangun. Dengan mata sendu dia mencoba menjauh dengan kepakan sayapnya yang tiba-tiba rapuh. Begitu lemah membuatnya tertangkap oleh burung tanpa iba.

 Jauh serangga itu masuk ke dalam tenggorokan hingga meleleh dengan cairan asam dalam perut burung. Kenangan itu berpindah dan burung itu tak ada rasa jenuh terus berkicau dengan anaknya sepanjang hari. Baginya menelan serangga yang sendu seperti suplemen pagi hari.

 Kenangan itu berpindah-pindah dari satu tempat, menuju wadah lalu pergi dan pasrah ke dalam raga tiap raga tak tahu waktu. Dia takkan pernah berakhir juga tidak akan pernah musnah. Seperti sebuah rekaman lagu, yang terus-menerus mencoba menjebak insan dalam satu rasa yang seolah sama.

Coretan

 - Oleh: Dina. S Ku ingin kamu hadir kembali dalam bingkai kacamataku yang tak lebih dari sejengkal ini Saat kamu ada ku tak ingin kamu perg...