Jumat, 27 Februari 2026

Coretan

Foto Copy

Oleh: Dina. S


Bulan kemarin malam tak sempurna

Tapi keindahannya menyajikan ketenangan

Apakah kamu melihatnya juga?

Di tempatmu yang sedikit sepi itu


Harusnya ku memberikanmu sebuah selimut

Jika kamu ingin, bisa ku nyanyikan sebuah lagu

Agar kamu tidur sejenak dalam hangatnya dekapanku

Dan kuusap rambut, kukecup kedua matamu saat pagi tiba


Ku berharap kamu melihat langit yang sama

Duduk atau bersandar di pagar balkon rumah

Lalu mengucapkan kata yang tak jauh berbeda

Dengan perasaan kita berdua


,"Maaf jika sedalam ini".

Kamis, 26 Februari 2026

Coretan

Buah Delima

Oleh: Dina. S


Bisakah aku pergi tanpamu, saat ku tahu

Kamu bukan tempat terakhirku

Liar perangaimu menelanku perlahan

Lalu melucuti timbunan rasa kasihku


Ijinkan aku petik hatimu

Pinjam sekali, biar bermekaran berhari-hari

Ijinkan juga memelukmu sekali

Tuk tebaskan ingatan akan hari itu


Menebus luka yang menjalar hina

Yang kau cambuk hingga menghujam biru

Meski tak kering, ku ingin hapus hari ini

Bukti telah larut akan perjalanan yang jauh


Bolehkah aku bertanya?

Apakah hari ini kamu masih ada

Rabu, 18 Februari 2026

Coretan

Lampu Tengah

Oleh: Dina. S


Ku melupakannya karena ku kecewa

Lalu sakit karena coba untuk ingat; dengan 

Bersandar di batas kesunyian

Meraung dalam rongga yang kedap


Kemarin,,


Tahan sendiri karena keindahannya; dia

Sigap memelukku dalam selimut ketidaktahuan

Terjerat pada pola pertemanan

Lalu diam-diam mencomooh dari kejauhan


Aku lupa untuk apa hadir di sini

Berperangai bagai raja padahal hanya si pelupa

Untuk yang satu,

Tetaplah menyokong agar selalu ingat; biarkanlah

Ku tumbuh karena tahu akan berjumpa

Coretan

Baca Buku

Oleh: Dina. S


Entah bagaimana caranya mendapatkan dia

Dia yang tak pernah menganggapku ada

Atau bisakah aku segera membisikkannya saja

Seperti menaburkan kaldu kedalam gulai


Entah bagaimana rupaku di matanya

Apakah dia pernah terjaga untukku juga

Seperti nadir menjelebab dalam kesemuan

Memeras waktu kini, agar luang saat kami jumpa


Ku menimangnya selalu meski jauh

Lalu menutup dan menjatuhkannya

Dengan cibiran ribuan kali menipu diri


Seisi kepalaku ku sebut dirinya

Preman kecil yang menolak kehadiranku

Diamnya pun terasa sangat menyiksa batin


Ku ingin dia menjeritkan namaku

Saat di sendiri dalam kegelapan

Agar sesak yang kami rasa

Melonggar berganti dengan senyum memekar

Minggu, 15 Februari 2026

Coretan

Dua Ribu

Oleh: Dina. S


Lupa pernah ditunggu, meriahnya selalu dirindu

Berharap malam itu tak merelakan kita pergi

Biar hening tak menyambung di esok hari

Tersemat di beranda buku-buku pengikutnya


Ku bukan perasa seperti pujangga

Hanya seorang anak sapi yang memakan rumput

Susunya diperas dan dagingnya dipanggang


Ku tak bisa lelah dan tak bisa serakah

Karena ayahku kerbau yang tenaganya dikuras

Untuk melindas tanah-tanah yang keras


Aku atau kamu adalah dua ribu

Bersorak dan saling merangkul tak ada tabu

Kami dan kalian bukan dua ribu

Lepas dalam jemari pergi sendiri-sendiri

Kamis, 12 Februari 2026

Coretan

Dasi

Oleh: Dina. S


Kamu membuatku menunggu lama

Tunjukan arah tempatmu saat ini

Ku putar gelombang agar ku menemukanmu

Beri tahulah, ku kan segera menemuimu


Ku tak berharap bagaimana orang melihatku

Sinis yang kurasa dalam ruangan yang sesak

Meski bias berharap pudar ketika kamu ada

Menuntun saat mereka mengutukku sampai pintu


Ku ingin menempatkanmu di dadaku

Menutup segala resah saat gugup menekanku

Sulit agar segalanya menjadi nyata

Setidaknya, kita berdua bisa mendapatkan undian yang terakhir 

Sabtu, 07 Februari 2026

Coretan

Ibunya

Oleh: Dina. S


 Ibu yang selalu mendongengkan cerita yang sama. Dia benyanyi sembari berlenggak-lenggok bagai penari menghibur di Sabtu pagi. Ibu menyeret ribuan lonceng yang menempel di dinding loteng, lorong dari banyak menara dekat rumah. Dia menguburkan lonceng-lonceng itu agar ternaknya tumbuh hanya dengan seruan bersumber darinya.

 Matanya berbinar dan senyum yang ceria terpancarkan saat dia bercermin. Menyeimbangkan raut wajahnya agar terlihat serupa dengan gadis-gadis yang bergerumul di depan rumahnya dan yang sibuk berlarian menjemput keberagaman. Ibu merasa dirinya pialang di kota paling tua ini.

 Dia selalu menyapa dengan cara paling dalam agar tampak hangat. Satu-satunya literatur milik Ibu untuk membuat orang mau menanggalkan nama di pagar rumah. Orang-orang bergerumuh menyambutnya dari tiap perbatasan jalan. Lalu, Ibu membalas dengan lambaian tangan kembali masam saat memalingkan wajahnya.

 Ibu memeluk ternak kesayangannya tanpa adat. Menutup mata jika dia hanya budak bagi ternaknya. Mengalihkan gemerlap dunia dengan menutup mata dan mengulang nyanyian yang dia suka agar tak sadar akan suara alam yang tenang.

 Tak ada yang memberitahunya saat ibu mulai menyusun dongeng. Jika tiada yang peduli kebenaran di baliknya, karena mereka hanya butuh upah setelah mendengar Ibu bercerita. Kehampaan dari kisah kosong Ibu yang megelabui telinga, takkan mempengaruhi dan sedikitpun tak akan terperangah.

 Mungkin Ibu yang kulihat esok pun masih sama. Dan Ibu layak berkumpul bersama mereka dengan jiwa yang lelah, terpojok di sudut dan terkunci rapat.


-Selesai-

Rabu, 04 Februari 2026

Coretan

Judul: Jejak

Oleh: Dina. S


Kau yang tak pernah bisa ku gapai

Diam-diam memperhatikan

Lalu bergerak, dekati dengan singkat

Penabur perona pipi yang menggeliat


Diriku yang selalu mengagumimu

Suatu hari nanti yakin kita kan bertemu

Berdoa di ujung realita yang runtun

Coba menarikmu keluar dari mimpiku


Ku perlukanmu yang ingin hadir di hidupku

Berjalan menyatu di antara mimpi dan realita

Kau ingin tunjukan besar doa yang dipanjatkan

Mengindahkan kesetiaanku yang selalu menurutimu

Senin, 26 Januari 2026

Coretan

 -

Oleh: Dina. S


Ku ingin kamu hadir kembali dalam bingkai kacamataku yang tak lebih dari sejengkal ini

Saat kamu ada ku tak ingin kamu pergi, dalam ramai atau sepi tetaplah di sini

Ku ingin tetap menggenggammu dalam sajak-sajakku yang kau anggap palsu

Itulah asal kebahagianku, pengganti yang kamu renggut seenaknya


Ia memberi dan menunjukkan betapa luas serta indahnya alam

Namun bertemu denganmu, duniaku mulai sepi

Tabu menjadi rapuh, dilahap waktu yang rakus


Ku menanti bedanya peranmu seperti dalam mimpi

"Rubahlah duniamu yang sepi

Warnai setiap hari, pilihlah satu warna

Perangi dinginnya perangaimu"

Kamis, 15 Januari 2026

Coretan

Judul: Tolak Rapuh

Oleh: Dina. S


Dia yang terperangkap dalam gelap. Keteduhan yang terekam di antara semak belukar. Terkurung dengan nyanyian jeritan malam. Geram dari yang buas nyaris ciutkan nyalinya. Tergores berulang kali, tetap teguh karena menolak rapuh.

Matahari yang sengatannya masih sama seperti tawon di kebun bunda. Terpantik indah nama sang pujangga. Dia yang mengembara dari dua sisi yang jelas mengutuknya. Kembali berulah tanpa mengulang trauma, mencoba merangkap mimpi saat jumpa kesempatan kedua.

Kalimat-kalimat santun yang menyapu segelas kenangan. Menuliskan dengan tarian pena, guratan harapan akan suatu kesenjangan. Menyibak rindu yang menyekat, lalu rela berlama-lama mengisi pandangan. Menggulirkan waktu menua bersama.

Sabtu, 27 Desember 2025

Coretan

Judul: Sampel

Oleh: Dina. S


Apakah kamu akan tetap diam seperti itu;

meski dunia benar-benar akan berakhir?

Jilid per jilid kisah tentang kita

Tak mau disadari hanya mau dipungkiri


Kita yang takkan pernah sama

Dan tak menganggap ada

Sering mengiris luka

Berharap bisa diingat saat tak berduka 


Di balik kesunyian, kita menjadi pengganggu

Lebih dalam, berubah menjadi rasa kagum

"Jauh untuk kamu merupa di depan mata;namun

satu helai sarafku bisa mengorbit hati untuk memutarkan suaramu.."

Berikanlah satu pinta, kan ku ajukan yang terbaik


Menepilah, ku beri ruang jika kamupun mau

Gemakan kegigihanmu yang bulat itu

Jabat dengan erat tuk longgarkan segala ragu

Melupakan ribuan mimpi yang lama tergerus waktu

Coretan

Foto Copy Oleh: Dina. S Bulan kemarin malam tak sempurna Tapi keindahannya menyajikan ketenangan Apakah kamu melihatnya juga? Di tempatmu ya...