Berputar
Oleh: Dina. S
Dengan tergesa-gesa mereka menceritakan bagaimana dunia bekerja dengan sangat cepat. Seseorang dengan mata merah dan kelopak hampir menutup seluruh bola mata, sangat meledak-ledak menarasikan pengalaman yang sangat menakjubkan di depan matanya.
Dia memberitahukan seberapa jauh dan lamanya perjalanan, serta makanan yang bisa mereka ambil dari tempat itu untuk perbekalan satu musim. Mereka pun tak lupa menjelaskan perawakan penduduk di wilayah tersebut. Tidak lebih dari 1,5 meter dengan gigi yang tajan seperti kuku kucing. Luka yang dihasilkan dari gigitannya pun membutuhkan waktu yang lama untuk sembuh. Dia mejulurkan tangannya yang sempat digigit oleh salah satu anak penduduk tempat asing tersebut. Dengan setengah kesal dia mengumpat terbesit memori saat tergigit, "busuk!" Namun saat ketua suku menanyakan kembali secara rinci akan wilayahnya, kembali dengan berlinang air mata laki-laki bertubuh gempal itu bergumam akan angan jika ketua suku memiliki rencana untuk mengunjunginya. Dan tak lama, ketua suku pun dengan suara kekar dan kerutan di keningnya mengiyakan dan berusaha keras bisa merebut lalu memiliki wilayah yang tenang dan indah seperti diceritakan.
Berbekal beberapa karung lobak dan garam yang akan dijadikan alat negosiasi. Gudang-gudang pun mereka tutup karena mereka berencana untuk segera merebutnya sebelum badai menyerang wilayah mereka. Badai asap dan debu yang sangat kuat. Asapnya yang panas bisa menembus daging diakhiri debu menutup sisa daging dari jasad yang terkoyak asap.
Saat semuanya mengemasi barang bawaan, pengawal dari ketua suku menaiki rumah pohon untuk mencari anak gadisnya yang menangis bersembunyi. Dengan sedikit keberanian, anak itu tidak ingin ikut dan tetap bersama tupai kesayangannya. Namun, sang pengawal segera mengais dan perpisahan yag penuh haru pun terjadi di antara tupai dan anak gadis ketua suku. Di pangkuan pundak si pengawal, gadis dari ketua suku menangis sambil memperhatikan tupai yang sama sedihnya karena ditinggal.
Berbagai macam pohon menghiasi tepian jalan. Lantas mereka sama sekali tidak akan pernah terkapar kelaparan jika cadangan makanan habis. Beberapa dari orang yang bertubuh gempal sibuk memetikkan buah untuk anak-anak kecil. Tanah yang subur pun mengantarkan beberapa bianatang yang bisa diburu, lalu sungai yang mengalir deras tidk di balik bukit yang selalu siap menghadang jika banjir datang.
Seseorang berlari membawa ikan segar dari sungai, kemudian anak-anak berhamburan menuju sungai yang airnya jernih seperti yang dikatakan orang tersebut. Ketua suku pun mengikuti dari belakang dan mereka masih bersama saling berpegangan menuju tempat tersebut.
Saat perjalanan menuju sungai, sekawanan serigala mendahuluinya. Mereka meneguk tiap tegukan air yang mengalir. Badan mereka kurus, beberapa ekor tewas seketika dan sisanya hanya mengalami dehidrasi dan kelaparan.
Ketua suku menghampiri dengan membawakan daging, dia iris tipis lalu menyuapi serigala tersebut. Tanpa takut dia memangkunya dan menyerok air sungai untuk diteteskan sedikit demi sedikit di sudut paling dalam dari moncongya. Dia usap lalu kecup dan membaringkan kembali salah satu serigala. Yang kemudian di ikuti oleh yang lain sebelum benar-benar pergi meninggalkan kawanan serigala di tepi sungai.
...
Setelah melewati satu hari penuh, mereka pun sampai di tempat tujuan. Tidak ada tanda kehidupan karena semuanya sudah habis oleh badai. Dengan segera mereka mendirikan tenda-tenda dari kain yang biasa mereka pakai untuk tidur. Beberapa dari mereka merasa kecewa karena ternyata ketua suku membohongi mereka. Mereka pergi hanya untuk memutar mendahului badai. Bukan serta merta mencari tempat singgah baru untuk mereka tinggali.
...