Ingin Punya Teman
Oleh: Dina. S
Dengan penuh percaya diri seorang pelajar baru memperkenalkan dirinya di depan kelas. Seluruh ruangan senyap memperhatikan pelajar baru tersebut. Tak ada salah sama sekali dengannya, kata-kata yang lugas dan sikap yang sopan serta penampilan yang rapi. Di ujung perkenalan pun seluruh kelas riuh karena pelajar baru tersebut latah setelah tersandung meja pengajar. Meskipun ada satu orang yang mengetahui jika dia sengaja melakukannya. Namun satu siswa tersebut terbuka menerima, menganggapnya sekedar lelucon sederhana dengan ikut serta tertawa besama yang lain termasuk pelajar baru.
Pelajar baru tersebut seorang remaja laki-laki yang punya selera humor dan ramah. Dia bisa diterima dengan baik oleh pelajar wanita, terutama anak-anak kerohanian. Kelebihan yang lain dia bisa menghafal satu halaman bacaan dengan tiga menit. Ya, tiga adalah angka favoritnya. Selama dia sanggup dia selalu melakukan segala hal dengan waktu yang berhubungan dengan angka tiga. Tiga detik memilih, tiga menit menghafal, tiga jam waktu senggangnya.
Kelembutan hatinya membuatnya menjadi tempat untuk curhat dan saling berbagi solusi dari permasalahan teman-temannya. Dia selalu berbagi makanan atau skincare terutama sunscreen. Jikalau ada julukan terbaru, Warung Waralaba berjalan mungkin bisa disematkan untuknya.
..
Selama dua tahun bersekolah, tak ada masalah sama sekali yang terjadi di antara dia dengan teman-temannya. Namun seketika hancur saat seorang Siswi menemukan flashdisk di tempat setelah dia duduk di perpustakaan lama. Siswi tersebut memberikan fashdisknya kepada seseorang yang namanya tercetak spidol permanen. Dan bukan nama dari pelajar baru tersebut.
Tidak lebih dari tiga hari dunia pelajar baru berubah. Beberapa anak tidak ingin meminta solusi, tidak mendekat hanya untuk berbagi makanan dan skincare. Mereka berubah menjauh termasuk Pengajar beserta Staff. Dia duduk dan tersadar jika flashdisknya menghilang sewaktu di perpustakaan. Rusaklah pertemanan pelajar baru dan harapannya yang dia simpan di dalam flashdisk tersebut
Pelajar baru tersebut menuliskan kembali yang diceritakan oleh teman-temannya dalam berbagai macam karya prosa. Baik puisi, pantun, kata mutiara dan cerpen. Dia pun menyimpan beberapa fotonya ketika mendapatkan berbagai penghargaan dari beberapa platform media sosial. Dia menyisipkan dokumen pengeluaran dari penghasilan menulis yang didapatnya. Meskipun dia pribadi yang hangat, ternyata dia menyimpan beberapa hasrat yang terpendam terhadap sosok yang tertera namanya di permukaan flashdisk. Dia membuat karakter fiksi di komik khusus dewasa yang terinspirasi dari sosok tersebut.
Berbeda, saat semua memasuki ruang kelas setelah melaksanakan upacara bendera. Pelajar baru tersebut diinterogasi di ruang Bimbingan Konseling. Sekolah jarak jauh atau penghentian sepihak yang menjadi pilihannya. Tanpa waktu lama dia memilih untuk sekolah jarak jauh.
Tidak ada satupun yang mengantarkan ke gerbang sekolah. Namun siswi yang menemukan flashdisk tersebut menguraikan airmata penyesalannya. Sambil melihat dari jendela kelas.
...
Pemilik nama yang tercetak itu yang membuat siswi tersebut menangis. Seorang laki-laki dan kakak kelas mereka yang sudah lulus selang setahun setelah pelajar baru memasuki sekolah. Dan setelah lulus menjadi pembimbing salah satu jam tambahan di kelas mereka. Semuanya sudah saling mengenal dan akrab tentunya. Dia menangis karena laki-laki tersebut si Pemberi Harapan palsu. Bukan hanya kepada dia tapi beberapa wanita di sekolah. Dia tidak menyangka setelah mengetahui isi flashdisk dari desas-desus yang tersebar hingga dikeluarkannya pelajar baru tersebut. Lalu semuanya berfikir apakah pelajar baru itu salah satu korban Si Pemberi Harapan Palsu atau ingin membalaskan dendam yang lain dengan cara membuatkan karakter di komik dewasa yang ia buat?
...
Hari kelulusan tiba bersamaan dengan diterbitkannya komik dewasa milik Pelajar baru. Dan ternyata menjadi bestseller mengalahkan komik ternama yang terbit di bulan yang sama. Lalu, keluarlah dia untuk memberikan tanda tangan bagi pembaca. Sembari menjelaskan bagaimana prosesnya pengambilan ceritanya di mulai.
Tidak dipungkiri dia suka sekali lingkungannya bersekolah. Mereka mengajarkan berbagi, selain berbagi makanan juga berbagi emosi atau saling peka atas kondisi satu sama lain. Dia meminta maaf karena cerita curahan hati beberapa temannya dia tulis menjadi beragam karya. Ternyata, apa yang ia bagi makanan, skincare dan pengeluaran yang lain itu didapatkan dari hasil karyanya. Dan sisanya sudah ia simpan di kas kelas. Namun, sama sekali dia tidak menyimpan empati terhadap sumber karakter yang menginspirasi di komiknya.
Menurut Pelajar baru tersebut, pria itu pantas mendapatkan sedikit kesulitan di hidupnya. Dia memang bukan perusak para gadis, tapi perilakunya membuat para gadis depresi dan berujung melakukan percobaan mengakhiri hidup. Satu waktu dia melihat, yang ternyata siswi yang menemukan flashdisk pernah memberikan dengan rutin bekal makanannya untuk Si Pemberi Harapan Palsu. Sedangkan dia sendiri kelaparan disamping pria itu memakan bekalnya bersama teman-temannya sambil mengumpat apa yang dimakan. Target yang lain itu bundanya sendiri. Entah apa yang dipikirkan pria itu, dia memotret bagian sensitif saat bundanya memungut pecahan kaca dan memindahkannya ke tepi jalan. Dan itu terjadi di hari pertama masuk sekolah, Pelajar baru tersebut melihatnya sendiri. Bahkan memotret pria itu dari belakang, lalu menunjukan ke arah pembaca yang menghadiri acaranya.
...
Tiga bulan berlalu dari waktu acara dan pengakuan Pelajar baru. Sebuah berita duka datang dari pria tersebut. Dia meninggal karena depresi dengan kecemasan berlebihan yang akhirnya mencoba menyerang beberapa orang. Saat dia akan menyerang seorang anak perempuan, seketika ayah dari anak perempuan itu menyerang kembali dan berakhir pria itu tumbang.
Semua siswa dan siswi kembali mengajak bergabung Pelajar baru di forum kelas mereka yang masih dikelola ketua kelas. Namun, tidak lama dikeluarkan karena si Ketua Kelas menjadi sumber inspirasi komik dewasa dia berikutnya.