Selasa, 24 Juni 2025

Cerita Pendek (Fiksi)

Judul : Pemotong Durian

Oleh : Dina. S


 Sudah dua pekan warung nasi di tepi danau ramai kedatangan tamu. Bukan hanya karena menu makanan sehat yang disediakannya saja, berbagai menu penutup makanan pun banyak mereka pesan. Hampir seratus porsi perhari hidangan penutup dari durian ludes terjual. Selain itu aksi seorang gadis yang terampil memotong sampai menghidangkan menu andalan penutup mereka, ikut membuat ramai dikunjungi.

  Sop Durian adalah menu andalannya. Es krim batang durian juga sering dipesan beberapa seller makanan dan warung kelontong untuk jajanan anak-anak. Dia pun membuat topping berbahan durian untuk berbagai kue, seperti pancong, pancake dan cookies.

 Semua orang menyukai keterampilan gadis itu saat menyajikan menu berbahan dasar durian. Karena begitu ramainya pengunjung yang ingin melihat keterampilan sang gadis, pemilik warung sengaja membuat area khusus agar bisa mempertunjukannya. Sebelum melakukan tugasnya, dia tidak lupa memakai sarung tangan rajut. Wajahnya yang manis sang pemilik warung menyuruhnya mengenakan masker. Karena untuk mengantisipasi dari orang yang menyimpan niat buruk di satu waktu terhadap gadis itu.

 Meskipun desa mereka memang minim dari aksi kejahatan, namun tetap saja orang yang memiliki niat buruk itu tidak tahu datangnya kapan. "Hari apes tidak ada di kalender," itu menurut asumsi anak jaman sekarang. Setiap hari warung nasi buka jam 8 dan tutup jam 9 malam. Sedangkan gadis itu datang jam 12 atau jam 1 siang, karena tugasnya hanya membantu bagian makanan penutup bukan sebagai pekerja tetap. Lagipula ia datang hanya untuk mengisi waktu senggang menunggu pengumuman kelulusan sekolah. Lalu sore jam 5 sudah dijemput ayahnya dengan mobil bak yang baru dibeli dari hasil ibunya pergi bekerja di luar negeri.

 ...

 Semua mata terpana saat ia mulai memegang pisau untuk membelah durian. Kemudian satu persatu buah durian itu dikeluarkannya untuk dipindahkan ke dalam sebuah baskom. Untuk diolah menjadi berbagai makanan lezat yang bisa dikonsumsi. Di tempat yang sama ayahnya memasukkan satu persatu cangkang durian ke dalam keranjang untuk dibawa dan disuplai ke kebun pemasok buah durian di warung nasi tepi danau.

...

 Tidak ada yang salah dengan keadaan jika memang takdir mengatakan seseorang harus berada di posisi yang sulit. Itulah penjelasan yang dikemukakan ibu dari gadis tersebut ketika dipaksa untuk berpisah dengan keluarganya untuk bekerja ke luar negeri. Lalu, siapa yang tahu nasib buruk bisa datang hanya untuk menghancurkan seketika. Meskipun tujuannya jelas berbuat baik kepada orang yang butuh pertolongan.

 Ya memang benar jika seorang ibu adalah orang yang paling kuat menghadapi badai dalam rumah tangga. Dia akan tetap menghidupkan keluarganya meski seorang perusak hadir di tengah-tengah keluarga mereka. Namun kembali lagi pada peran ibu, jika dia tidak sanggup mengimbangi kuatnya pengaruh si penghancur. Keluarganya akan hancur di tangannya juga.

...

 Berawal dari sekelompok anak muda yang memesan salah satu villa yang dimiliki keluarga tsb. Wajah yang rupawan, tutur kata yang sopan dan villa yang ia sewa pun selalu dirawatnya membuat keluarga si pemotong durian sama sekali tidak menyimpan kekhawatiran apakah ada maksud yang direncanakan oleh sekelompok anak muda tersebut.
 Dalam satu bulan keluarga gadis pemotong durian ditegur dua kali oleh warga. Pertama, karena kendaraan yang dipakai anak muda itu merusak jalan menuju kebun jagung mereka. Seorang sksi pun melihat gapura yang dibuat dengan hasil sukarela para warga rusak karena tersenggol badan kendaraan milik anak muda. Dan terakhir, saat anak muda tersebut kedapatan mengambil foto dari kegiatan warga tanpa ijin. Salah satunya kegiatan di sungai yang dipakai untuk mandi dan buang hajat.
 Keluarga gadis tersebut dan anak muda itu meminta maaf atas kesalahan yang diperbuat. Tak lama mereka mengganti gapura yang dirusak dengan bergotong royong. Namun tidak dengan foto kegiatan warga tersebut, sekelompok anak muda telah mengirimkan foto tersebut ke sebuah lembaga yang menugaskan anak muda untuk singgah di desa tempat villa dan keluarga pemotong durian tinggal.

 Dalam beberapa hari warga mengalami perubahan. Mereka tidak lagi buang hajat di sungai, tapi mereka dibuatkan toilet umum di sisi rumah si pemotong durian. Dan memberi langkah pembuatan area septictank. Awalnya warga menolak karena tak ada satupun yang rela lahannya dibuat wc umum. Tapi, balik lagi karena kebesaran hati seorang ibu semuanya terlaksana. Sayang dari kebaikan hati seorang ibu pun berlanjut saat teguran demi teguran yang dibuat anak muda terhadap warga dengan dalih perubahan. Namun dingin dari kepalanya semuanya membuahkan solusi yang baik untuk kedua pihak sehingga berakhir tenang kembali.
 Pengorbanan pun berlanjut, saat pekarangannya menjadi tempat pembuangan sampah sementara. Sampah dapur warga kelola masing-masing di rumahnya sedangkan sampah plastik, dll mereka menyimpannya untuk diangkut oleh jasa pengangkut sampah. Tidak ada pemungutan uang dari jasa yan diberikan keluarga pemotong durian kepada warga. Mereka hanya meminta sikap yang tulus yang dicurahkan warga agar pelaksanaan program tersebut lancar. Dan warga bisa terbiasa dan menularkan perubahan yang dinilainya baik kepada keluarga dan keturunannya nanti. Karena ternyata sekelompok anak muda tersebut datang dari sebuah yayasan yang memiliki konsep untuk merubah tatanan masyarakat di kalangan bawah. Dan selalu siap memotivasi dan memberikan pertolongan bagi warga baik secara penyuluhan hingga pelaksanaan.

 Namun sayang, kenyamanan hidup keluarga si pemotong durian pun ikut terusik karena yayasan tersebut ingin mengambil alih villa yang telah menampung anak muda tersebut untuk dikembangkan menjadi pusat edukasi. Kurangnya relasi dan ijin bangunan dan usaha, membuatnya mudah untuk diambil haknya. Sebelum diambil haknya, mereka membuat nilai keluarga tersebut hancur di mata warga. Mereka menyewa beberapa orang untuk berpesta di area villa. Menghasilkan suara bising dan bermabuk-mabukan, selama keluarga pergi keluar kota untuk meminta perlindungan atas villanya.

 Banyak sekali keburukan yang dihasilkan dari perbuatan anak muda tersebut di belakang keluarga pemotong durian. Yang akhirnya villa tersebut dicopot hak ijinnya dan yayasan edukasi diperbolehkan untuk membeli dengan harga murah akibat keluhan-keluhan yang sudah dibuat sekelompok anak muda. 

....

 10 tahun berlalu, kelompok yang berkedok yayasan mengambil hak beberapa warga yang lain dengan mudah. Banyak warga yang kehilangan mata pencaharian sama seperti keluarga pemotong durian. Yang akhirnya banyak warga pergi ke luar negeri untuk mencari pekerjaan atau pulau lain. 5 tahun pula ibu si pemotong durian meninggalkan keluarga untuk pergi bekerja sambil mengamankan diri dari trauma yang dibuat yayasan terhadap dirinya. Karena dia merasa kebaikannya yang membuat warga di sekitar menderita. Ditambah sang ibu dituduh menggelapkan uang atas kebijakan perubahan yang dibuat oleh yayasan tersebut. Padahal satu lembar pun tidak ada sama sekali harga yang diberikan oleh yayasan. Baik ketika membuat toilet umum ataupun membuat pekarangannya menjadi tempat pembuangan sampah sementara.

 ...

 Itulah sepenggal kisah hidup si pemotong durian, mungkin di lubuk hatinya menyimpan dendam atas ulah anak muda dan yayasan. Namun kembali lagi, hidup manusia itu hanya sementara, tidak ada yang harus ditangisi jika itu memang untuk kebaikan bersama. Meskipun dia tahu orang yang mengusulkan villa tersebut diambil alih adalah adik dari ayahnya sendiri. Sekaligus orang yang mendapatkan uang beserta area penyimpanan air bersih.
 Keluarga itu memilih diam jika harus mengutamakan dendam. Terlebih adik dari ayahnya adalah pemilik warung nasi tempatnya bekerja untuk mengolah buah durian.

-Selesai-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Coretan

Rautan Pensil Oleh: Dina. S Ku berharap kamu bertanya Seberapa gram serbuk; atau Seberapa banyak gulungan lembut Dari sisa sayatan pensil ya...