Judul: Bekerja
Oleh: Dina. S
Angin kencang menerbangkan kertas-kertas yang terjatuh dari papan pengumuman. Seorang pria berjaket merah mengambilnya dan menerawang beberapa kertas untuk memastikan apakah namanya tertera di salah satu kolom kertas tersebut. Lalu, dia mencabut satu pin untuk ditempelkan kembali dengan kertas yang ia genggam. Pria itu kemudian meninggalkan gedung yang menjadi tempat terakhirnya untuk mencari pekerjaan sambil berurai air mata.
...
Kesulitan demi kesulitan ia lalui sendiri selama mencoba peruntungan saat setelah menyelesaikan pendidikan dan program magang yang dibuat pemerintah. Sebenarnya tidak ada satupun yang gagal dari sekian banyak percobaan yang dia lakukan, namun sayang tidak ada satupun yang menerimanya bekerja. Dan akhirnya membuatnya pesimis dan berasumsi jika memang ada pelicin tambahan agar bisa mendapatkan peluang bekerja di salahsatunya.
Ibu dari pria itu menelpon agar sang anak mengurungkan niatnya dan kembali ke rumah. Tapi dengan kondisi lingkungan yang kurang ramah membuat pria itu tetap teguh untuk mencari pekerjaan di luar kota. Karena sang Ibu memaksa anaknya pulang, akhirnya pria itu menuruti hanya dengan satu alasan jika dia tidak diterima di tempat berikutnya.
...
"Tok, tok," suara pintu rumah diketuk oleh seorang wanita paruh baya sambil menangis. Pemilik rumah membuka pintu dengan lebar, dengan wajah pucat dia memeluk wanita yang mengetuk rumahnya. Setelah tangis mereda, wanita itu menceritakan perihal dia menangis. Si Pemilik rumah yang ternyata ibu dari pria itu, sontak saja menjerit lalu menangis sehingga jatuh pingsan. Ditelusuri hal yang diceritakan, itu terkait kondisi pria yang ditemukan tewas tertusuk.
Pelaku penusukan adalah orang yang merasa tersaingi karena masalah pribadi. Dan setelah ditelusuri lebih dalam, orang yang membuatnya tidak diterima bekerja adalah si pelaku. Saat berita disiarkan oleh salah satu stasiun TV, pelaku tersebut yang mengambil karya secara ilegal bahkan melakukan sayembara dari pencurian karya hingga percobaan pembunuhan. Berawal untuk menginginkan ketenaran berakhir untuk menutupi keburukan. Karena akhirnya pria itu menyadari jika sudah banyak karyanya dicuri oleh pelaku.
Di atas pusara, sang ibu menangis menyesali keterlambatannya mengetahui bahwa anaknya memang telah lama menjadi incaran. Tak satu pun orang datang untuk menyampaikan permintaan maaf. Baik dari pelaku yang merupakan seorang publik figur, maupun dari mereka yang telah mengusik kehidupan anaknya demi sebuah sayembara.
...
Beberapa bulan menjalani persidangan akhirnya pelaku diberi keringanan dan diputuskan menjadi tahanan rumah. Memiliki tiga anak kembar yang masih butuh perlindungan dan ASI, satu-satunya alasan hukumannya dikurangi.
-Selesai-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.