Rekrutmen
(Cerpen Fiksi)
Oleh: Dina. S
Pada tahun 2013 seorang gadis ditemukan
mengambang berhari-hari dengan leher terbelit tali dari tas jinjing. Badannya membengkak
dan biru lebam muncul di berbagai bagian tubuhnya. Termasuk di wajahnya yang membuatnya
sulit untuk dikenali. Karena tidak ada
tanda-tanda luka kekerasan, jadi disimpulkan gadis tersebut tewas bunuh diri.
Berita kematian gadis tersebut ramai dibicarakan sampai masuk ke berbagai forum
serta media nasional. Namun entah mengapa identitas gadis tersebut tidak pernah
dipublikasikan. Setelah hasil otopsi keluar, jenazahnya langsung segera
dikebumikan.
Seorang lelaki membawa beberapa dokumen
milik gadis tersebut sebelum petugas kebersihan membakarnya setelah proses pemeriksaan.
Tindakan yang menurutnya tepat karena tampak rancu untuk membuang terlebih
membakar barang bukti korban. Yang biasanya tetap disimpan sebagai dokumentasi
sebelum keluarganya menjemput dan lain sebagainya.
Dia membuka satu persatu dokumen milik
mendiang. Ada tiket pesawat, kereta serta bus yang masing-masing memiliki
tanggal yang sama. Kemudian menerawang selembar file yang selamat dari beberapa
helai yang sudah pudar karena kelembapan plastik yang merendam tas jinjing si
gadis.
Ternyata beberapa nama seorang pria telah
ditulis di selembar kertas tersebut. Yang kemudian membuat lelaki tersebut
bertekad mencari satu persatu identitas dari nama-nama pria. Pencarian berawal
dari nama Deamir. Lelaki itu mendatangi langsung sesuai alamat yang ditulis di-filenya.
Tekadnya yang bulat semata-mata hanya iba dan ingin menginformasikan kepada
keluarga gadis yang hanyut di sungai.
Lelaki itu duduk di atas bangku yang
terbuat dari anyaman rotan. Disuguhi berbagai macam hidangan tradisional
seperti getuk dan ubi bakar. Deamir pun tiba setelah berbagai macam obrolan singkat
antara lelaki itu dan ibunya Deamir. Deamir menyambut dengan hangat serta
menanyakan perihal keperluan tamunya. Kemudian, lelaki itu menyodorkan selembar
file gadis yang hanyut. Deamir sangat mengenali tulisan tangan yang disodorkan. Dia
pun beranjak dan kembali dengan selembar foto gadis. Dia melihat fotonya dengan seksama, terlihat malu
dan tersenyum haru sambil mengusap foto gadis itu. Dia menyerahkan foto seorang
gadis yang tulisannya sama dengan gadis yang hanyut itu. Kemudian lelaki itu
menceritakan gadis tersebut ditemukan hanyut dengan terlilit tali tas
jinjingnya.
Pandangan Deamir semakin dalam melihat
foto gadis itu yang kini terhampar di atas meja. Badannya yang kekar tidak
menutupi kalau hantinya telah teriris pilu mendengar kabar gadis dari selembar
foto tersebut hanyut. Deamir pun menceritakan dengan rinci dari awal hingga
akhir pertemuan mereka. Dan dari yang dia ceritakan, gadis itu memiliki nama
Randu. Deamir pun memiliki niat untuk menikahi gadis tersebut. Meskipun
diputuskan sepihak, dia tetap menungu gadis itu untuk membuka hatinya kembali.
Dan selalu menerima jika gadis itu ingin kembali ke kehidupan Deamir.
Sebuah memori card tentang
kehidupan Randu selama berhubungan dengan Deamir berada dalam kantongnya.
Selain itu lelaki itu pun diberi bekal perjalanan berupa makan tradisonal oleh ibu
Deamir.
Di tempat ke dua, dia diberi makian keras
oleh seorang wanita paruh baya. Karena wanita itu berfikir lelaki itu adalah
seorang penagih hutang yang biasa datang di pertengahan bulan. Secara halus dia
pun menjelaskan maksud kedatangannya. Akhirnya setelah penjelasan lelaki itu, dengan
terbata-bata wanita itu menangis sambil memberikan informasi tentang Fean. Fean
adalah suaminya yang usianya 12 tahun lebih muda dari wanita itu. Randulah
orang yang memperkenalkan Fean dengan wanita paruh baya itu. Berawal dari Randu
yang sangat akrab dengan keduanya. Fean teman seperjuangan saat mencari kerja
dan wanita itu teman akrab Randu di tempat kerjanya.
Awalnya rumah tangga mereka terkesan samawa,
namun semenjak Randu menghilang. Fean menjadi pemurung dan menjadi pemabuk
selain itu membawa wanita lain ke rumah mereka. Dari sana wanita paruh baya
tersebut berfikir jika Fean menyukai Randu. Wanita itupun menjebak Fean dengan
membuat kartu kredit atas nama suaminya. Karena dia pun tidak sudi dimintai
uang hanya untuk perbuatan tercela, bukannya untuk membuka usaha atau sekedar
mencari pekerjaan. Wanita itu berharap Fean berubah setelah dia tahu hutangnya
membludak di kartu kredit yang dibuat atas kerjasama dengan orang tua Fean.
Namun, terkadang penagih hutang berbuat kasar. Tak jarang dari mereka pun salah
sasaran karena tidak diberitahu informasi jebakan itu. Wanita paruh baya itu
hanya ingin membuat Fean menyesal dan tidak akan meninggalkan dia meskipun Fean
sangat melukai hatinya.
Lelaki itu meninggalkan rumah wanita paruh
baya setelah mendapatkan informasi kecil tentang Randu dan Fean. Kemudian
dengan berbekal selembar file, ia mengunjungi rumah pria yang
selanjutnya yang namanya tertulis dengan nama Jean.
Bendera kuning dari kertas wajit terpasang
di gang rumah Jean. Sembari berkunjung ia pun melayat di keluarga Jean. Setelah
itu ia menemui Jean yang sedang mengelap batu nisan yang tertulis nama almarhum
ayahnya. Jean terlihat kesal dengan perihal kedatangan lelaki itu. Dia
mengatakan jika sangat kecewa dengan Randu yang sudah mencela keluarganya.
Mungkin dia pun sangat bersyukur dengan berita hanyutnya Randu di sungai.
Jean memperlihatkan gelang pemberian Randu
dan berbagai macam benda pemberian dari Randu. Jean mengatakan Randu ingin
dipinang olehnya. Tapi karena keluarganya yang sangat agamis, hubungan mereka
tidak disetujui. Dan Randu pun mengatakan hal yang sangat menyakiti hati Jean. Berbagai
barang pemberiannya seolah menjelaskan ketimpangan sosial antara keluarga Jean
dan Randu. Jean pun tidak memiliki informasi perihal alamat rumah Randu. Itu
pula yang membuat Jean memiliki kesimpulan bahwa Randu sangat mengecilkan
keluarganya.
Lelaki itu duduk di depan meja komputernya
dengan berbagai macam informasi yang sudah di dapat. Namun tidak satupun dari
mereka memberikan informasi tentang alamat rumah Randu. Selain tiket pesawat
yang mulai pudar mungkin hanya memori card pemberian Deamir satu-satunya
informasi untuk mengetahui keberadaan keluarga Randu.
Lelaki itu sangat terkejut dengan apa yang
dia lihat. Hanya berupa gambar hewan random hasil download dari mesin
pencarian gambar internet. Akhirnya dia memutuskan kembali ke kediaman
masing-masing pria yang namanya tertulis di file gadis tersebut. Benar
saja dari ketiganya satupun tidak ada di tempatnya. Mereka sudah pindah dan
jalan satu-satunya hanya dari nomor tiket pesawat yang semakin pudar.
Akhirnya dia memiliki identitas pemilik
tiket tersebut. Sayangnya pemilik tiket tersebut bukan milik Randu atau gadis
yang hanyut tersebut. Kemudian dengan beberapa petugas keamanan, lelaki itu
mendatangi rumah pemilik tiket pesawat. Ternyata pemilik tiketnya wanita yang
sudah tua rentan dan tidak memiliki kemampuan serta keinginan untuk bepergian
karena keadaannya. Lelaki itu mengerutkan keningnya dan memastikan jika data
untuk pembelian tiket pesawat telah dipalsukan oleh orang yang tidak
bertanggungjawab dengan tujuan menghilangkan jejak karena telah menghilangkan
nyawa gadis tersebut.
Esoknya dia kembali ke tempat kerjanya,
dengan wajah lemas dia masuk ke ruangan pimpinannya. Selembar kertas di
depannya membuat rasa lemasnya menghilang dalam sekejap. Ternyata dia direkrut
ke dalam divisi investigasi, salah satu pekerjaan yang dia impikan. Namun
sebelum itu dia harus menjelaskan alasan dia tidak masuk selama 5 hari.
Pimpinannya tersenyum mendengar alasan lelaki
itu. Dia pun menjelaskan bahwa jenazah gadis itu langsung segera dikebumikan
atas permintaan keluarganya. Karena Ibu dan adiknya sedang melaksanakan ibadah
haji. Gadis itu korban pembegalan dan pelakunya sudah ditangkap setelah lelaki
itu mencari identitas gadis yang jadi korban begal.
Korban dibegal sekitar jam 12 siang di
jembatan penyebrangan. Di lokasi yang sama tempat di mana jenazahnya ditemukan.
Tidak sulit mencari informasinya karena korban adalah kandidat yang berhasil di
terima di suatu perusahaan. Korban pun menulis di dalam memonya berbagai
tahapan yang dia tempuh selama tahapan rekrut. Dia menulis pula penyeleksi dari
awal tes tulis, pewawancara hingga klinik yang menjadi tempat dia tes
kesehatan.
Pimpinan itu berterimakasih atas
kepedulian lelaki itu terhadap gadis yang hanyut. Dia pun meminta maaf karena
telah mengerjainya. Karena dia pun penasaran sampai mana rasa kepedulian lelaki
itu. Pimpinannya memberikan alamat tempat jenazah gadis dikebumikan.
Lelaki itu menundukkan kepala lalu berdoa,
menyiram pusara gadis yang hanyut. Kemudian melihat batu nisannya, ternyata
namanya benar Randu. Dan dengan hati yang sedikit kecewa karena diam-diam
pimpinannya merekrut dengan cara yang tak biasa. Meski dengan hasil yang
membuatnya bahagia karena posisinya yang baru yang sudah lama ia inginkan yaitu
menjadi petugas investigasi. Namun ada hal yang sedikit ambigu
menurutnya atas dirinya yang direkrut. Mungkin ke depannya hari-harinya diisi
dengan kebimbangan, apakah akan tetap diam atau lebih baik mengundurkan diri
saja?
-Selesai-