Jumat, 29 November 2024

Cerpen Fiksi

 Jalani

(Cerpen Fiksi)

Oleh: Dina. S

Saya tidak pernah tahu konflik yang terjadi antara dia dengan gadis yang saya titipkan senar gitar. Saya bukan seorang stalker berbakat yang haus akan kehidupan dia. Mungkin bisa dikatakan kalau sebenarnya saat ini saya dikategorikan orang yang lumayan sibuk jika dibanding dengan dia. Meskipun tidak bekerja secara formal, saya selalu kebanjiran order. Saya penulis lepas yang lumayan dicintai oleh beberapa pembaca. Terakhir tulisan saya dibeli oleh seorang artis muda yang bertalenta. Saya pun bekerja paruh waktu untuk sekedar mengisi waktu luang. Saya tidak berkuliah, tapi saya mengikuti kursus bahasa. Mungkin karena order tulisan yang lumayan banyak membuat saya mengurungkan niat untuk melanjutkan sekolah.

Di balik kesibukan saya, saya selalu menyempatkan untuk berpapasan dengannya. Terakhir kali saya melihat dia dengan gadis itu tengah membeli es krim di supermarket. Saya sendiri kebetulan sedang mencari riset soal jenis masakan tradisional yang sudah jarang ditemui di berbagai tempat. Riset tersebut untuk kebutuhan tulisan yang diorder oleh teman dari jejaring sosial internet.

Mereka tampak hangat berbincang di luar supermarket. Tak lama gadis itu memasuki supermarket mencari apa yang mereka butuhkan. Suaranya yang lembut terdengar saat bertanya kepada petugas supermarket. Gadis itu mencari es krim kesukaan kekasihnya yang ternyata sisa satu dan sedang dipegang oleh saya. Sedikit demi sedikit saya menjauh dari obrolan singkat mereka dan berjalan perlahan untuk menyimpan es krim kesukaan kekasihnya.

Mata ini langsung tertegun saat melihat dia yang tak sengaja berhadapan dengan saya. Jantung berdebar lebih cepat, nafas pun mengikuti ritmenya. Pipi yang memerah terlihat dari pantulan kaca yang menjadi batas kami. Mungkin nadi ini yang menghantarkan panas dari sisa debaran jantung dan membuat pipi menjadi merah. Sayangnya keberadaannya di balik kaca tak memiliki emosi yang selaras. Matanya tampak jelas menyoroti gadis itu sambil tersenyum. Pandangannya mengikuti gadis itu hingga ke freezer di mana es krim kesukaannya di simpan. Saya menunduk kemudian meninggalkan pemandangan romansa mereka.

Berbagai kategori tulisan yang dipesan tak satu pun saya tolak. Tulisan saya tidak terlalu rapi dan bagus, meski sederhana tapi beberapa orang menganggap tulisannya memiliki makna yang unik yang membuat mereka selalu ingin membacanya.

“Dari kelima jarimu, selalu ada satu jari yang mengalah.

Satu dari keempat jari itu bisa membuatmu menggenggam sesuatu”

Penggalan di atas adalah sedikit kutipan yang saya tulis untuk salah satu pemesan tulisan. Dia memesan untuk kekasihnya yang berulang tahun ke dua puluh satu. Satu halaman tentang kekasihnya yang menyukai sepak bola, musik dan kuliner. Si pemesan tidak menyebutkan namanya dan nama kekasihnya yang berulang tahun. Hanya sebuah screeshot foto yang ia minta untuk dibuatkan karikatur. Dan kini foto itu saya sematkan diurutan pertama galeri ponsel.

Jika dia busur panah, saya akan menjadi penompang dari sebidang papan

-Bersambung-


Cerpen Fiksi

Jalani

Oleh: Dina. S


Malam ini saya melihat panorama langit di sebelah gerobak bakso andalan desa. Duduk di kursi plastik, mengantri sambil mengemut permen kaki. Selera bakso saya sama dengannya, yaitu bakso tanpa bawang goreng dan cuka. Selain langit malam, padangan mata saya tak lepas dari gang mawar yang menjadi jalan menuju rumahnya. Terkadang hati ini merasa berdebar meski melihat gang mawar. Tak jarang pandangan semu ini menggambarkan dia dan memproyeksikannya dalam lamunan.

Dia selalu terlambat pulang ke rumah. Tergesa-gesa berlari supaya tidak tertinggal jam olahraga. Tangannya yang sibuk membetulkan dasi atau sekedar mengencangkan sabuknya. Bebatuan yang kecil pun berkali-kali dijadikannya pelampiasannya pada saat senang atau sedih.

Dengan perawakan yang berbeda dia keluar dari gang mawar yang saya soroti sejak lama. Debaran di dada menggema dan berakhir hingga dia berangsur menjauh. Jaket parasut lebar, tas selempang dan sepatu futsal menggantung di bahu kanannya. Dia masih saja tampak sama dan tidak pernah tahu kalau selama ini ada yang memperhatikan. Saya selalu berfikir kenapa saya harus peduli sampai sejauh ini? padahal saya tahu itu sangat menyakitkan?

Menyalakan lampu di gang Mawar sebelum dia pulang bermain futsal di jam sepuluh malam pun menjadi bagian rutinitas. Karena gang tersebut dekat dengan jalan layang yang sangat sepi. Menurut kabar burung di sekolah jalan layang tersebut adalah tempat tragedi bunuh diri seseorang. Berbeda dengan penuturan warga kampung, kabar burung itu hanya cerita untuk sekedar menakut-nakuti anak-anak supaya lekas pulang jika hari sudah senja. Semua anak yang kini sudah dewasa sudah tidak termakan kabar burung yang menghantui masa kecil kami lagi. Dan tersisa dia, dia selalu berlari melalui gang Mawar jika sudah malam. Suasana yang sepi dengan lampu jalan yang masih padam membuatnya ketakutan.

Tidak ada perubahan di dirinya yang terlihat masih seperti anak Sekolah Menengah. Komitmen dia yang masih menjaga hubungan dengan gadis yang memberikan senar gitar, itu yang membuatnya berbeda. Entah apa yang terjadi di antara dia dengan cinta pertamanya. Mungkin dia menolak gadis itu karena sudah memiliki kekasih baru atau bisa jadi itu adalah pelukan terakhir karena setelahnya gadis itu tidak pernah terlihat bergandengan dengan dia lagi.

-bersambung-


Rabu, 20 November 2024

Cerpen

Rekrutmen

(Cerpen Fiksi)

Oleh: Dina. S

 

Pada tahun 2013 seorang gadis ditemukan mengambang berhari-hari dengan leher terbelit tali dari tas jinjing. Badannya membengkak dan biru lebam muncul di berbagai bagian tubuhnya. Termasuk di wajahnya yang membuatnya sulit untuk  dikenali. Karena tidak ada tanda-tanda luka kekerasan, jadi disimpulkan gadis tersebut tewas bunuh diri. Berita kematian gadis tersebut ramai dibicarakan sampai masuk ke berbagai forum serta media nasional. Namun entah mengapa identitas gadis tersebut tidak pernah dipublikasikan. Setelah hasil otopsi keluar, jenazahnya langsung segera dikebumikan.

Seorang lelaki membawa beberapa dokumen milik gadis tersebut sebelum petugas kebersihan membakarnya setelah proses pemeriksaan. Tindakan yang menurutnya tepat karena tampak rancu untuk membuang terlebih membakar barang bukti korban. Yang biasanya tetap disimpan sebagai dokumentasi sebelum keluarganya menjemput dan lain sebagainya.

Dia membuka satu persatu dokumen milik mendiang. Ada tiket pesawat, kereta serta bus yang masing-masing memiliki tanggal yang sama. Kemudian menerawang selembar file yang selamat dari beberapa helai yang sudah pudar karena kelembapan plastik yang merendam tas jinjing si gadis.

Ternyata beberapa nama seorang pria telah ditulis di selembar kertas tersebut. Yang kemudian membuat lelaki tersebut bertekad mencari satu persatu identitas dari nama-nama pria. Pencarian berawal dari nama Deamir. Lelaki itu mendatangi langsung sesuai alamat yang ditulis di-filenya. Tekadnya yang bulat semata-mata hanya iba dan ingin menginformasikan kepada keluarga gadis yang hanyut di sungai.

Lelaki itu duduk di atas bangku yang terbuat dari anyaman rotan. Disuguhi berbagai macam hidangan tradisional seperti getuk dan ubi bakar. Deamir pun tiba setelah berbagai macam obrolan singkat antara lelaki itu dan ibunya Deamir. Deamir menyambut dengan hangat serta menanyakan perihal keperluan tamunya. Kemudian, lelaki itu menyodorkan selembar file gadis yang hanyut. Deamir sangat  mengenali tulisan tangan yang disodorkan. Dia pun beranjak dan kembali dengan selembar foto gadis. Dia  melihat fotonya dengan seksama, terlihat malu dan tersenyum haru sambil mengusap foto gadis itu. Dia menyerahkan foto seorang gadis yang tulisannya sama dengan gadis yang hanyut itu. Kemudian lelaki itu menceritakan gadis tersebut ditemukan hanyut dengan terlilit tali tas jinjingnya.

Pandangan Deamir semakin dalam melihat foto gadis itu yang kini terhampar di atas meja. Badannya yang kekar tidak menutupi kalau hantinya telah teriris pilu mendengar kabar gadis dari selembar foto tersebut hanyut. Deamir pun menceritakan dengan rinci dari awal hingga akhir pertemuan mereka. Dan dari yang dia ceritakan, gadis itu memiliki nama Randu. Deamir pun memiliki niat untuk menikahi gadis tersebut. Meskipun diputuskan sepihak, dia tetap menungu gadis itu untuk membuka hatinya kembali. Dan selalu menerima jika gadis itu ingin kembali ke kehidupan Deamir.

Sebuah memori card tentang kehidupan Randu selama berhubungan dengan Deamir berada dalam kantongnya. Selain itu lelaki itu pun diberi bekal perjalanan berupa makan tradisonal oleh ibu Deamir.

Di tempat ke dua, dia diberi makian keras oleh seorang wanita paruh baya. Karena wanita itu berfikir lelaki itu adalah seorang penagih hutang yang biasa datang di pertengahan bulan. Secara halus dia pun menjelaskan maksud kedatangannya. Akhirnya setelah penjelasan lelaki itu, dengan terbata-bata wanita itu menangis sambil memberikan informasi tentang Fean. Fean adalah suaminya yang usianya 12 tahun lebih muda dari wanita itu. Randulah orang yang memperkenalkan Fean dengan wanita paruh baya itu. Berawal dari Randu yang sangat akrab dengan keduanya. Fean teman seperjuangan saat mencari kerja dan wanita itu teman akrab Randu di tempat kerjanya.

Awalnya rumah tangga mereka terkesan samawa, namun semenjak Randu menghilang. Fean menjadi pemurung dan menjadi pemabuk selain itu membawa wanita lain ke rumah mereka. Dari sana wanita paruh baya tersebut berfikir jika Fean menyukai Randu. Wanita itupun menjebak Fean dengan membuat kartu kredit atas nama suaminya. Karena dia pun tidak sudi dimintai uang hanya untuk perbuatan tercela, bukannya untuk membuka usaha atau sekedar mencari pekerjaan. Wanita itu berharap Fean berubah setelah dia tahu hutangnya membludak di kartu kredit yang dibuat atas kerjasama dengan orang tua Fean. Namun, terkadang penagih hutang berbuat kasar. Tak jarang dari mereka pun salah sasaran karena tidak diberitahu informasi jebakan itu. Wanita paruh baya itu hanya ingin membuat Fean menyesal dan tidak akan meninggalkan dia meskipun Fean sangat melukai hatinya.

Lelaki itu meninggalkan rumah wanita paruh baya setelah mendapatkan informasi kecil tentang Randu dan Fean. Kemudian dengan berbekal selembar file, ia mengunjungi rumah pria yang selanjutnya yang namanya tertulis dengan nama Jean.

Bendera kuning dari kertas wajit terpasang di gang rumah Jean. Sembari berkunjung ia pun melayat di keluarga Jean. Setelah itu ia menemui Jean yang sedang mengelap batu nisan yang tertulis nama almarhum ayahnya. Jean terlihat kesal dengan perihal kedatangan lelaki itu. Dia mengatakan jika sangat kecewa dengan Randu yang sudah mencela keluarganya. Mungkin dia pun sangat bersyukur dengan berita hanyutnya Randu di sungai.

Jean memperlihatkan gelang pemberian Randu dan berbagai macam benda pemberian dari Randu. Jean mengatakan Randu ingin dipinang olehnya. Tapi karena keluarganya yang sangat agamis, hubungan mereka tidak disetujui. Dan Randu pun mengatakan hal yang sangat menyakiti hati Jean. Berbagai barang pemberiannya seolah menjelaskan ketimpangan sosial antara keluarga Jean dan Randu. Jean pun tidak memiliki informasi perihal alamat rumah Randu. Itu pula yang membuat Jean memiliki kesimpulan bahwa Randu sangat mengecilkan keluarganya.

Lelaki itu duduk di depan meja komputernya dengan berbagai macam informasi yang sudah di dapat. Namun tidak satupun dari mereka memberikan informasi tentang alamat rumah Randu. Selain tiket pesawat yang mulai pudar mungkin hanya memori card pemberian Deamir satu-satunya informasi untuk mengetahui keberadaan keluarga Randu.

Lelaki itu sangat terkejut dengan apa yang dia lihat. Hanya berupa gambar hewan random hasil download dari mesin pencarian gambar internet. Akhirnya dia memutuskan kembali ke kediaman masing-masing pria yang namanya tertulis di file gadis tersebut. Benar saja dari ketiganya satupun tidak ada di tempatnya. Mereka sudah pindah dan jalan satu-satunya hanya dari nomor tiket pesawat yang semakin pudar.

Akhirnya dia memiliki identitas pemilik tiket tersebut. Sayangnya pemilik tiket tersebut bukan milik Randu atau gadis yang hanyut tersebut. Kemudian dengan beberapa petugas keamanan, lelaki itu mendatangi rumah pemilik tiket pesawat. Ternyata pemilik tiketnya wanita yang sudah tua rentan dan tidak memiliki kemampuan serta keinginan untuk bepergian karena keadaannya. Lelaki itu mengerutkan keningnya dan memastikan jika data untuk pembelian tiket pesawat telah dipalsukan oleh orang yang tidak bertanggungjawab dengan tujuan menghilangkan jejak karena telah menghilangkan nyawa gadis tersebut.

Esoknya dia kembali ke tempat kerjanya, dengan wajah lemas dia masuk ke ruangan pimpinannya. Selembar kertas di depannya membuat rasa lemasnya menghilang dalam sekejap. Ternyata dia direkrut ke dalam divisi investigasi, salah satu pekerjaan yang dia impikan. Namun sebelum itu dia harus menjelaskan alasan dia tidak masuk selama 5 hari.

Pimpinannya tersenyum mendengar alasan lelaki itu. Dia pun menjelaskan bahwa jenazah gadis itu langsung segera dikebumikan atas permintaan keluarganya. Karena Ibu dan adiknya sedang melaksanakan ibadah haji. Gadis itu korban pembegalan dan pelakunya sudah ditangkap setelah lelaki itu mencari identitas gadis yang jadi korban begal.

Korban dibegal sekitar jam 12 siang di jembatan penyebrangan. Di lokasi yang sama tempat di mana jenazahnya ditemukan. Tidak sulit mencari informasinya karena korban adalah kandidat yang berhasil di terima di suatu perusahaan. Korban pun menulis di dalam memonya berbagai tahapan yang dia tempuh selama tahapan rekrut. Dia menulis pula penyeleksi dari awal tes tulis, pewawancara hingga klinik yang menjadi tempat dia tes kesehatan.

Pimpinan itu berterimakasih atas kepedulian lelaki itu terhadap gadis yang hanyut. Dia pun meminta maaf karena telah mengerjainya. Karena dia pun penasaran sampai mana rasa kepedulian lelaki itu. Pimpinannya memberikan alamat tempat jenazah gadis dikebumikan.

Lelaki itu menundukkan kepala lalu berdoa, menyiram pusara gadis yang hanyut. Kemudian melihat batu nisannya, ternyata namanya benar Randu. Dan dengan hati yang sedikit kecewa karena diam-diam pimpinannya merekrut dengan cara yang tak biasa. Meski dengan hasil yang membuatnya bahagia karena posisinya yang baru yang sudah lama ia inginkan yaitu menjadi petugas investigasi. Namun ada hal yang sedikit ambigu menurutnya atas dirinya yang direkrut. Mungkin ke depannya hari-harinya diisi dengan kebimbangan, apakah akan tetap diam atau lebih baik mengundurkan diri saja?

 

-Selesai-

Sabtu, 16 November 2024

Coretan

Halaman

Oleh: Dina. S

 

Seseorang membuat lubang di halaman bukuku

Satu paragraf tersisipkan namamu

Ataukah tetesan airmataku yang melakukannya?

Mengakui apa yang mengikat di hati selama ini

 

Malam aku melihat namamu terhapus di pagar rumah kita

Mungkinkah seseorang menggoreskan cat hitam

Ataukah karena benturan sebuah batu

Yang aku lemparkan saat mencemburui dia waktu itu

 

Aku ingin selalu mengeluarkanmu dari kerasnya hidup

Dan membongkar beberapa ruang agar terlihat sama

Namun, kini berbalik kau yang membuat jeda

Dan membuat sekatan berjarak dekat untuk semua

Jumat, 15 November 2024

Coretan

Ruang Bawah Tanah

Oleh: Dina. S


Meskipun banyak dijumpai tangga di tiap sudut

Tapi tak tergugah untuk beranjak keluar

Tong yang terketuk ranting berulang-ulang 

Terasa keras menggema ruangan bawah tanah


Penghakiman mereka nyata di depan mata

Meski aku tetap mengasihi dengan sepenuh hati

Tapi mereka nyaman jika aku menetap di sini

Tawaran seribu bunga bermekaran pun mereka acuhkan


Entah sampai kapan aku akan tetap menetap?

Melewati kesan canda bahagia di luar ruang

Menggulung beberapa rotan yang keropos

Menguburkannya untuk diuapkan di musim hujan


Rabu, 13 November 2024

Coretan

 Permukaan

Oleh: Dina. S


Aku hanyalah seseorang yang telah karam

Yang jatuh berkali-kali karena rembulan

Selalu mencari tempat agar lebih dekat sebelum dia mendekat


Aku tak ingin selamanya menjadi bagian dari lautan

Berangan keluar dari belenggu selimut birunya yang palsu

Kemudian berjuang seperti petualang


Bisakah engkau berhenti mencelaku?

Karena yang terukur takkan menggantikan yang terukir

Tidak lagi puncak, permukaanlah pilihanku saat ini


Coretan

Kabut Hujan

Oleh: Dina. S


Bulan ataukah mentari yang menyusup celah kabut

Jika jam segan tuk menggoreskan waktu kembali


Gerimis mendikte di tiap dahan secara perlahan

Namun angin yang meniup-niup hilang sebelum hujan

Awan berganti kabut dingin siap memeluk bumi

Menyusutkan panas yang berlarut-larut


Di bawah payung sebagian menemukan batasan

Tidak sedikit juga menerima hujan tanpa batas

Ada yang membalasnya dengan sebuah gambar bisu

Ada pula seseorang tanpa nama mengikuti hingga akhir cerita


Minggu, 10 November 2024

Coretan

 Peluang

Oleh: Dina. S


Aku tak pernah menemukanmu kembali

Karena langkahku yang semakin terkunci

Ketika kamu berada di antara bintang-bintang

Sedang aku berada di antara pemburu binatang


Tak pernah aku mengejarmu kembali

Karena aku tak lagi sejajar dengan para penuntun waktu

Cobalah hidangan penutup dari sepotong kue ceri

Di penghujung musim gugur


Seandainya kamu tahu sejauh mana apa yang aku rasa

Simpanlah minuman hangat di sisi jendela kamarmu

Setelah uap yang mencair di permukaannya

Kamu tukar lalu tuangkan air dingin di gelas yang sama


Minggu, 03 November 2024

Coretan

 Berwisata

Oleh: Dina. S


Duniaku terlihat seperti selembar foto

Hitam bercampur putih menjadikannya samar

Dia membisu walau gumpalan awan yang menyatu;

Lebatnya hujan serta kilatan petir terpotret abadi


Kekasihku terdengar seperti gulungan pita kaset

Dia tak samar dengan wujudnya yang terukur

Banyak ragam cara untuk membuatnya bersuara

Penyaringnya sama tapi bunga dalam hati yang berbeda


Bagiku kita seperti penghuni pohon tua

Yang berlenggak lenggok erotis menipu angin

Berbuah atau tidak tetap sama

Pulang dan pergi selalu menyiksa dengan kata-kata


Coretan

 - Oleh: Dina. S Ku ingin kamu hadir kembali dalam bingkai kacamataku yang tak lebih dari sejengkal ini Saat kamu ada ku tak ingin kamu perg...