Jalani
(Cerpen Fiksi)
Oleh: Dina. S
Saya tidak pernah tahu konflik yang terjadi antara dia dengan gadis yang saya titipkan senar gitar. Saya bukan seorang stalker berbakat yang haus akan kehidupan dia. Mungkin bisa dikatakan kalau sebenarnya saat ini saya dikategorikan orang yang lumayan sibuk jika dibanding dengan dia. Meskipun tidak bekerja secara formal, saya selalu kebanjiran order. Saya penulis lepas yang lumayan dicintai oleh beberapa pembaca. Terakhir tulisan saya dibeli oleh seorang artis muda yang bertalenta. Saya pun bekerja paruh waktu untuk sekedar mengisi waktu luang. Saya tidak berkuliah, tapi saya mengikuti kursus bahasa. Mungkin karena order tulisan yang lumayan banyak membuat saya mengurungkan niat untuk melanjutkan sekolah.
Di balik kesibukan saya, saya selalu menyempatkan untuk berpapasan dengannya. Terakhir kali saya melihat dia dengan gadis itu tengah membeli es krim di supermarket. Saya sendiri kebetulan sedang mencari riset soal jenis masakan tradisional yang sudah jarang ditemui di berbagai tempat. Riset tersebut untuk kebutuhan tulisan yang diorder oleh teman dari jejaring sosial internet.
Mereka tampak hangat berbincang di luar supermarket. Tak lama gadis itu memasuki supermarket mencari apa yang mereka butuhkan. Suaranya yang lembut terdengar saat bertanya kepada petugas supermarket. Gadis itu mencari es krim kesukaan kekasihnya yang ternyata sisa satu dan sedang dipegang oleh saya. Sedikit demi sedikit saya menjauh dari obrolan singkat mereka dan berjalan perlahan untuk menyimpan es krim kesukaan kekasihnya.
Mata ini langsung tertegun saat melihat dia yang tak sengaja berhadapan dengan saya. Jantung berdebar lebih cepat, nafas pun mengikuti ritmenya. Pipi yang memerah terlihat dari pantulan kaca yang menjadi batas kami. Mungkin nadi ini yang menghantarkan panas dari sisa debaran jantung dan membuat pipi menjadi merah. Sayangnya keberadaannya di balik kaca tak memiliki emosi yang selaras. Matanya tampak jelas menyoroti gadis itu sambil tersenyum. Pandangannya mengikuti gadis itu hingga ke freezer di mana es krim kesukaannya di simpan. Saya menunduk kemudian meninggalkan pemandangan romansa mereka.
Berbagai kategori tulisan yang dipesan tak satu pun saya tolak. Tulisan saya tidak terlalu rapi dan bagus, meski sederhana tapi beberapa orang menganggap tulisannya memiliki makna yang unik yang membuat mereka selalu ingin membacanya.
“Dari kelima jarimu, selalu ada satu jari yang mengalah.
Satu dari keempat jari itu bisa membuatmu menggenggam sesuatu”
Penggalan di atas adalah sedikit kutipan yang saya tulis untuk salah satu pemesan tulisan. Dia memesan untuk kekasihnya yang berulang tahun ke dua puluh satu. Satu halaman tentang kekasihnya yang menyukai sepak bola, musik dan kuliner. Si pemesan tidak menyebutkan namanya dan nama kekasihnya yang berulang tahun. Hanya sebuah screeshot foto yang ia minta untuk dibuatkan karikatur. Dan kini foto itu saya sematkan diurutan pertama galeri ponsel.
Jika dia busur panah, saya akan menjadi penompang dari sebidang papan
-Bersambung-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.