Jumat, 29 November 2024

Cerpen Fiksi

Jalani

Oleh: Dina. S


Malam ini saya melihat panorama langit di sebelah gerobak bakso andalan desa. Duduk di kursi plastik, mengantri sambil mengemut permen kaki. Selera bakso saya sama dengannya, yaitu bakso tanpa bawang goreng dan cuka. Selain langit malam, padangan mata saya tak lepas dari gang mawar yang menjadi jalan menuju rumahnya. Terkadang hati ini merasa berdebar meski melihat gang mawar. Tak jarang pandangan semu ini menggambarkan dia dan memproyeksikannya dalam lamunan.

Dia selalu terlambat pulang ke rumah. Tergesa-gesa berlari supaya tidak tertinggal jam olahraga. Tangannya yang sibuk membetulkan dasi atau sekedar mengencangkan sabuknya. Bebatuan yang kecil pun berkali-kali dijadikannya pelampiasannya pada saat senang atau sedih.

Dengan perawakan yang berbeda dia keluar dari gang mawar yang saya soroti sejak lama. Debaran di dada menggema dan berakhir hingga dia berangsur menjauh. Jaket parasut lebar, tas selempang dan sepatu futsal menggantung di bahu kanannya. Dia masih saja tampak sama dan tidak pernah tahu kalau selama ini ada yang memperhatikan. Saya selalu berfikir kenapa saya harus peduli sampai sejauh ini? padahal saya tahu itu sangat menyakitkan?

Menyalakan lampu di gang Mawar sebelum dia pulang bermain futsal di jam sepuluh malam pun menjadi bagian rutinitas. Karena gang tersebut dekat dengan jalan layang yang sangat sepi. Menurut kabar burung di sekolah jalan layang tersebut adalah tempat tragedi bunuh diri seseorang. Berbeda dengan penuturan warga kampung, kabar burung itu hanya cerita untuk sekedar menakut-nakuti anak-anak supaya lekas pulang jika hari sudah senja. Semua anak yang kini sudah dewasa sudah tidak termakan kabar burung yang menghantui masa kecil kami lagi. Dan tersisa dia, dia selalu berlari melalui gang Mawar jika sudah malam. Suasana yang sepi dengan lampu jalan yang masih padam membuatnya ketakutan.

Tidak ada perubahan di dirinya yang terlihat masih seperti anak Sekolah Menengah. Komitmen dia yang masih menjaga hubungan dengan gadis yang memberikan senar gitar, itu yang membuatnya berbeda. Entah apa yang terjadi di antara dia dengan cinta pertamanya. Mungkin dia menolak gadis itu karena sudah memiliki kekasih baru atau bisa jadi itu adalah pelukan terakhir karena setelahnya gadis itu tidak pernah terlihat bergandengan dengan dia lagi.

-bersambung-


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Coretan

Rautan Pensil Oleh: Dina. S Ku berharap kamu bertanya Seberapa gram serbuk; atau Seberapa banyak gulungan lembut Dari sisa sayatan pensil ya...