Senin, 26 Mei 2025

Coretan

 Tersedak

Oleh: Dina. S


Kamu memberi tahu sisi dalam dari diriku

Yang sering ku pertanyakan sendiri seorang diri


Kamu pun mengawasiku di setiap langkah

Menjauhkan dari hal buruk yang tak ku sadari

Mengungguli waktu setia mendampingiku

Menuruti tanpa menuntut banyak


Teduhkan hati dengan pesona riangmu

Lalu kembali melalui jalan tempat kita berpijak

Menyeruput air hangat dengan satu tegukan

Untuk menekuk beribu tabu


Payah dalam menari dan terus belagak bodoh

Mengelabui diri ini dalam bingkaimu yang telah roboh 


Coretan

 Serigala

Oleh: Dina. S


Dia menemukanku kembali di dalam mimpi

Suara serak keluar dari laringnya, menggemakan lorong-lorong

Ku temukan ia dengan tangisnya, menunduk di bawah lemari

Dalam gelap di pojok kelas yang kosong

...

Yang lalu dia menelanjangiku dengan perangainya

Kini meraga untuk mendorongku

Merayu dengan keluar menyusuri tangga bersama

...

Sekalipun takkan pernah terobati masa yang telah berlalu

Dia telah lama berlalu dan pergi menjauhimu

...

Diamlah coba sedikit lukis lukanya

Kenang kebersamaan antara kau dengannya

Urutkan kembali batasanmu yang biru

Tuk mengulangnya dengan kisah yang baru


Kamis, 15 Mei 2025

Coretan

 Hanya Debu

Oleh: Dina. S


Kita pembohong yang sempurna

Diam tampak bemakna namun saat bersuara

Semuanya sirna dalam sekajap mata


Kamu melenggang indah dibalik tirai

Dan mulai ramaikan suasananya

Pola rangkaian kata dengan irama

Menggema seisi kepala, getarkan di inti dada


Menyapa dalam sajak yang sesak

Meski hanya sebatas tuan dan budak

Rasanya ingin erat nan pekat

Namun nyata harus menjauh karena takkan pernah retak

Coretan

 Serbuk Satu Masa

Oleh: Dina.S


Kita seorang pencuri waktu

Tetaplah sandarkan tubuhmu

Dan membekukan hati

Dalam relung pikirku yang sunyi

Meski,

Kau biarkan diri ini sendiri menderita

Berteman dengan kisah yang jauh dari realita

Dibohongi dengan tema kisah jatuh cinta;lalu

Bertahun-tahun bertahan hingga ahli berpura-pura


Ku siapkan ruang lama yang kau suka

Yang terang kini gelap gulita

Berilah nyala seperti sediakala

Tebaskanlah jiwa ini karena telah lama meronta

Jumat, 25 April 2025

Coretan

Hijau

Oleh: Dina. S


Berulang kali aku memasuki sebuah taman

Diselusuri beberapa kali lorong tempat parkir yang mencekam

Pertemuan yang kita janjikan

Ku harapkan ada karena ku menunggu dari sekian purnama


Sebuah cincin yang ku simpan dalam balutan surat cinta

Akan menggetarkan seisi hati meski tak tahu apa yang ia jawab


Kami memiliki tiga kesamaan

Yang mengisi tiga perbedaan kami

Dua adalah simbol sisi yang menggambarkan 

Tentang penyempurnaan diri kami


Perundunganmu yang terucap mencabikku

Seperti sabit merobek punggung yang tergulung

Namun ucap yang mencabikku

Tak sengaja merombak buruk kekuranganku

Hmmm,

Saat pertemuan nanti kamu akan erat di pelukan

Dan ku ulang kata maaf hingga ribuan kali

Takkan ku biarkan satupun yang melepaskan

Hanya itu yang ku inginkan saat kita kembali

Minggu, 20 April 2025

Coretan

Wanita

Oleh: Dina. S


Di bawah jam kota dia menunggu dengan rasa sesal yang sama

Bertemankan hati perih yang menari dan membayangi

Penduduk menjaring di pandangannya berlalu-lalang

Semakin lama mulai menjarang bersama asap di sore hari


Tetesan air keluar dalam selaput kelopak matanya

Diam dengan gugup coba mencederai kain dari sepotong pakaian

Menggertaki diri sendiri dalam relung hati

Lalu memalingkan wajah ke arah seikat bunga yang layu


Wajah cerah menyaingi rembulan

Semakin memudar lupa akan tuan

Namun untuk seseorang sepertimu

Dia tak ingin lari sampai tua dan rapuh


Selasa, 18 Maret 2025

Cerpen Senandika

Obat Rindu

Oleh: Dina. S

 

Dia mengembara ke dalam hutan, menaiki tebing yang curam. Lalu memanah ke arah hamparan langit yang luas.

Dia tak pernah mengadu pada siapapun tentang rasa sakitnya. Entah dijadikan bahan gurauan atau dimanfaatkan. Dia pun selalu dipandang sebelah mata oleh orang tua dan gurunya. Meski dia menghindari orang-orang yang memungkinkan untuk menyakitinya. Tapi tetap saja, mereka selalu datang dengan dalih meminta bantuan yang akhirnya merundungnya kembali.

Puluhan tahun ia dijadikan tempat untuk mencari inspirasi. Di mana kurangnya kasih sayang orang tua semenjak masa sekolah, rasa sakit dan ketidakpedulian dia terhadap hidupnya. Menginspirasi seorang penulis yang akhirnya dibuatkan berbagai karya dan berhasil mendapatkan banyak penghargaan. Sayangnya penulis itu tidak pernah sekalipun menyambangi untuk sekedar permintaan maaf atau terimakasih karena keturut sertaan dia mengantarkan penulis itu menjadi seorang yang dipandang oleh dunia.

Kepolosan dan kurang cakapnya ia menghadapi berbagai kemelut hidup di kota yang kecil, padat dan sumpek. Membuat dia dijadikan budak sedari kecil oleh baik teman-teman maupun lingkungannya. Untuk menambah uang saku mereka, berbagai aktivitas dia direkam bersama sisi emosionalnya. Kemudian mereka menjualnya di berbagai situs dunia maya. Selain mendapatkan limpahan rejeki, tetapi kesalahan mereka pun ditutupi karena keberadaan dia.

Drama selanjutnya, ia disulitkan dalam mencari pekerjaan. Setiap kali ia mendapatkan pekerjaan, rekaman dari teman-temannya selalu menjadi ancaman. Dia kembali bahkan semakin diperbudak, pelecehan oleh orang-orang yang datang berkedok romansa pun ia rasakan.

Sampai pada satu titik dia ingin ditolong oleh seseorang tetapi setelah bertemu orang yang bisa mengatasi masalahnya, orang tersebut malah ikut terpengaruh oleh orang-orang yang terlebih dahulu mengenal dia. Sang penolong pun menjadi manusia yang serupa selayak mereka yang memanfaatkan kehidupan pribadi beserta perasaannya.

Dia bertemu manusia setengah kuda di tepi sungai. Lalu dia meminta untuk bertemu kakek dan neneknya. Dia diperintahkan untuk menutup mata, hujan pun datang dengan deras mengguyur seluruh tubuhnya.

Dia tak pernah menyerah, selalu bertekad untuk bisa bertemu dan diselamatkan oleh seseorang dari lingkaran yang membelenggu kebebasannya. Dia pula tak pernah ragu untuk masuk ke dalam lingkungan baru yang diharapkan bisa menerimanya, mendengarkan dan saling bertukar pikiran. Namun, kehidupan yang demikian tidak pernah ada. Kenyataannya sama sekali tidak ada yang mengerti dia, sebaliknya mereka selalu melakukan hal yang sama. Pikiran, pola tingkah mereka yang berulang akhirnya meramu, menenggelamkan dia ke dalam lautan angan-angan.

Dia duduk berdua di atas batu bersama wanita cantik bersirip, setelah ditolong karena percobaan menyelam ke dalam lautan. Kemudian setelah kepanikan mereda, mereka berenang bersama ke sisi kapal. Wanita cantik bersirip itu kemudian bernyanyi sambil memandang pangeran yang sedang berdansa bersama putri di bawah langit yang di penuhi bintang-bintang.

Kehidupan yang ia anggap sempurna, hanyalah mimpi-mimpi indah yang mengalun di sepanjang malam. Meskipun ada, nyatanya kehidupan itu palsu dan sesaat saja. Mereka tidak nyata ataukah kehidupan ini pun tak pernah ada?

"Jutaan sel yang saling mengisi, membuatku untuk memulai semua kembali dari titik awal. Seperti biasa setiap pagi, ku panah langit agar ia merasakan sakit yang sama denganku meski setitik. Ku tutupkan mata, agar aku merasakan bagaimana derasnya hujan yang serupa dengan tangisku. Kupekikkan suara hati ini, seperti mencoba melucuti bintang-bintang"

Dalam selimut tebal, dia tertidur lalu bermimpi. Pertemuan dengan manusia bersayap menutupi kisah ini. Dalam mimpi, ia meminta kembali apa yang ia inginkan. Yaitu keluar dari lingkaran yang membelenggu kebebasannya. Manusia bersayap itu hanya tersenyum dan berulang kali menghantarkan lingkaran itu saat dia mengutarakan harapan yang sama.

 

-Selesai-

Quote yang kalah lomba

 





Kamis, 06 Maret 2025

Cerita Pendek

Si Pembohong

Oleh: Dina. S


Kepergianmu memberikanku secercah harapan baru. Namun batin ini selalu bertanya tentang keberadaan seseorang yang sepertimu hadir di hidupku kembali. Bagaimana hati ini menerimanya jika kamu tak bisa luput dari ingatan? Dan haruskah aku melupakanmu yang selalu menemani melalui hari-hari yang indah maupun kelam.
Terkadang aku ingin mengendap masuk untuk sekejap melihat duniamu saat ini. Kerinduan yang berulang menguasai mimpi dalam tidur dan menggetarkan kalbu lalu sedikit mencemaskanmu, "sepi atau ramaikah di sana?"
Sesekali aku pun ingin kita bersama untuk mengulang hal yang sama. Sedikit bermain tentang kata atau simbol berlandaskan rasa cinta. Lalu benar-benar berpisah untuk waktu yang lama. Tak ada lagi tarian, sapaan yang lembut atau pelukan hangat yang mengisi waktu kita.
Bagiku memilikimu itu anugerah meski kita saling menyakiti. Namun begitu, kamu selalu menopangku ke manapun aku pergi. Kita pun tidak selalu menyukai makanan yang sama, namun sekali lagi kamu selalu tepat untuk menghilangkan daun bawang yang tidak ku suka. Sepi atau ramai tempatmu di sana, biarkanlah aku berjalan seorang 

diri.

Puisi

Karena tidak terpilih di sayembara puisi. Ijinkan saya membagikan puisinya:


Tangan-tangan

Oleh: Dina. S 


Tangan-tangan yang gelisah

Mengusap embun pagi dari daun ke daun

Bersemangat untuk melewati hari

Layaknya aktor yang menggelar pertunjukan tiada henti


Keberadaannya yang tak pernah kau anggap

Kesibukanmu jugalah yang menutup kesadaranmu

Tak sengaja melukai hingga pupuskan rasa rindunya


Dia tak pernah gelisah dan bukan si pencerita

Jangan pernah mereka-reka tentangnya

Terpangkas hidupnya tuk memanjakanmu

Tak haus dipuji, berhentilah menyakiti


Usaplah dan ucapkan terimakasih

Kecup ia lalu meminta maaf

Rangkullah saat ia berkeluh kesah

Sama seperti ketika kamu ingin menyerah


Karawang, 27 Februari 2025


Bionarasi: perkenalkan nama saya Dina, seorang ibu rumah tangga yang suka menulis dan mendengarkan lagu kosidah. Semoga pembaca menyukai puisi buatan saya. Puisi ini terinspirasi dari beberapa keadaan, pertama isi hati para penggemar kepada idolanya. Kedua, tangan kita yang selalu beraktivitas. Terakhir dari anggota keluarga yang menyayangi kita. Mohon maaf jika kurang puitis puisinya. :)

Minggu, 16 Februari 2025

Beranda

Oleh: Dina. S


Bagaimana cara kamu menemukanku?

Sementara kita berada di dua tempat yang berbeda

Bagaimana mungkin kamu tak mengenaliku?

Sementara kita menyukai rasa yang sama


Jika kamu ragu akan sesuatu, cari dan temukanlah aku

Meski telah lama kita saling berhadapan

Bagai dua pelangi yang saling memandang

Bahkan sinarku lebih terang saat berpantulan


Aku tak pernah memiliki urutan di dalam hatimu

Karena aku hanya ada saat sebelum duniamu mulai gelap

Bagimu aku pun bukan siapa-siapa dan tak berharga

Meski aku adalah perahu sama yang menopangmu


Berpetualang, mengarungi samudera sepanjang waktumu

Mencari tempat-tempat yang indah, memburu berbagai kisah

Namun begitu kamu tak pernah mengenaliku hingga akhir

Dan menyimpan di beranda untuk mengenang sedikit tentang kisahku

Coretan

Rautan Pensil Oleh: Dina. S Ku berharap kamu bertanya Seberapa gram serbuk; atau Seberapa banyak gulungan lembut Dari sisa sayatan pensil ya...