Si Pembohong
Oleh: Dina. S
Kepergianmu memberikanku secercah harapan baru. Namun batin ini selalu bertanya tentang keberadaan seseorang yang sepertimu hadir di hidupku kembali. Bagaimana hati ini menerimanya jika kamu tak bisa luput dari ingatan? Dan haruskah aku melupakanmu yang selalu menemani melalui hari-hari yang indah maupun kelam.
Terkadang aku ingin mengendap masuk untuk sekejap melihat duniamu saat ini. Kerinduan yang berulang menguasai mimpi dalam tidur dan menggetarkan kalbu lalu sedikit mencemaskanmu, "sepi atau ramaikah di sana?"
Sesekali aku pun ingin kita bersama untuk mengulang hal yang sama. Sedikit bermain tentang kata atau simbol berlandaskan rasa cinta. Lalu benar-benar berpisah untuk waktu yang lama. Tak ada lagi tarian, sapaan yang lembut atau pelukan hangat yang mengisi waktu kita.
Bagiku memilikimu itu anugerah meski kita saling menyakiti. Namun begitu, kamu selalu menopangku ke manapun aku pergi. Kita pun tidak selalu menyukai makanan yang sama, namun sekali lagi kamu selalu tepat untuk menghilangkan daun bawang yang tidak ku suka. Sepi atau ramai tempatmu di sana, biarkanlah aku berjalan seorang
diri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.