Kamis, 31 Oktober 2024

Cerpen

 

Hirarki

Oleh: Dina. S

 

Kenangan yang sudah terkubur itu kembali menari-nari dalam pikiranku. Meski tak mau, aku mencoba merelakan diri ini untuk menurutinya. Sama halnya seperti siang yang cerah waktu itu. Di mana aku melihat seorang wanita yang membuka jahitan dalam perutnya. Kancing terakhir dari setelan kemejanya ia buka, kunang-kunang dengan berbagai warna berhamburan dan mencoba membaur dengan matahari. Sungai mengalir indah bersama dengan ikan-ikan yang terguyur pancuran air dari bambu, setelah bagian akhir dari tubuh wanita itu dikelupasnya, Ia menutup mataku sebelum menceburkan dirinya ke dalam sungai.

Penari kipas yang mengakhiri perjalanan terakhirnya mengorbit planet khalayanku. Kemudian dia menyeretku ke dalam kenangannya. Di sana aku melihat para wanita sangat kagum dengan tarian kipasnya yang mempesona. Lelaki itu menutup telingaku di saat ribuan pasang kekasih mengeluarkan kata-kata umpatan. Badannya yang lemas pun mencoba menghindari pertikaian yang terjadi dengan wanita yang ingin bertahan dengannya. Lelaki itu mencibirnya berkali-kali, karena dia berfikir pertikaian itu hanya bualan semata.

Gambaran kisah cinta selalu dimiliki oleh bentangan langit bersama awan. Mengisyaratkan akan cinta yang bergelora, lepas dan abadi. Sebuah kalimat yang tertulis di permukaan batu nisan seorang gadis. Remaja laki-laki yang tak lain sahabat terdekatnya, menunduk kemudian ia raih cangkul yang ada di sampingnya. Tangis dan jerit kehilangan menderai bersama hujan, ia pun menggali persinggahan terakhir gadis yang ia sayangi. Kepingan emas dan batu perak berceceran menutupi setengah lahan pemakaman. Ku rapatkan mulutku, saat ia cungkil jantungnya dan terbaring bersama.

Pembeli realita menyalin dengan bermacam-macam cerita. Potongan kertas dari salah satunya aku simpan di dalam saku. Karena yang kulihat dia membiarkannya tertumpuk dan lembap sampai beberapa hari. Pembeli itu mengayamnya di bawah terik mentari dan sinar rembulan. Sementara itu adukan cat yang kian mengering menjadi teman terakhirnya saat pembeli lain melihatnya terbujur kaku.

Sabtu, 26 Oktober 2024

Coretan

 Narsistik

Oleh: Dina. S


Maret lalu ia melangkah maju tanpa ragu

Tak disisipkan sebutir koma dalam kalimat seru

Jambu merah yang tergambar di tengah matanya

Melenturkan jiwanya berhari-hari


Dia berjalan tanpa batasan lalu menari

Menutupi rasa malu dengan topeng si penghibur

Beragam musik yang mengalir dalam khayalannya

Menyandera ketakutan-ketakutannya berulang kali


Dia memantik api ke dalam tumpukan balok kayu

Menenggelamkan pandangannya ke dalam perapian

Mencoba berjabat dengan asap yang terhuyung

Percikan api menyalak celah jemari tak menciutkannya


Berlari dalam hujan yang semakin riak

Tak bisa diam meski di tengah toko yang ramai

Menangis di tengah hujan lalu mencoba memeluknya

Namun setelah hujan reda, dia menyeringai seperti serigala

Jumat, 25 Oktober 2024

Coretan

Bertamu

Oleh: Dina. S


Tak kulewati dinginnya udara pagi setelah hujan semalam

Mengemasi butiran-butiran embun dalam raga

Biar dicurahkannya dalam rangkaian kata

Air mata melelang luka yang terbungkus rindu


Bayangannya mengapung bagai perahu

Saat ku penakan namanya

Di sisi segelas teh celup yang ku cairkan

Berdegup nafas yang berulang-ulang 


Bertamu bagiku hanya sebuah cibiran

Menjamah bukan tuk mengobati

Tapi mengotori sucinya rasa rindu

Yang sengaja dibungkam dari masa lalu


Rabu, 23 Oktober 2024

Coretan

 Nilai

Oleh: Dina. S


Yang pernah menarik dalam denyut nadi

Mengguncangkan separuh kolom-kolom

Jeruji yang meruncing takkan perih meski menusuk

Tak mampu menyamai tupai yang mengupasi biji ek


Hilang dalam jeratan yang terkunci lama

Masuk dalam safana lalu berguling-guling

Tak murung karena tidak lagi dalam tempurung

Duduk atau berbaring bersama para gembala


Karma yang tak sama menggiurkan realita

Ujian hampir menggugurkan rasa cinta

Rela dalam doa yang dipanjatkan tiap pijakan

Menerima yang terhina tuk dibasuh dengan kasih

Jumat, 18 Oktober 2024

Coretan

 Kepala

Oleh: Dina. S


Deburan hati menjaganya agar tak kosong

Tak pedulikan ruasnya jemari yang kotor

Isi yang sama dari rekaan kata-kata

Seperti angin dari hujan yang tak biasa mendobrak jendela


Kepingan mimpi menggegerkan bilik-bilik

Hampir berlubang bagai tahu diisi cincangan cabai

Lalu bihun goreng yang tersusun bagai helaian sutra

Disulam oleh sumpit, tersisa kuah bertabur seledri


Sendiri menikmati siang di bukit ujung kota

Hidung yang dirasuki serbuk bunga

Menggelar temu dalam tempurung kepala yang kosong

Menjajarkan realita tuk mengelabui serabut mimpi


Rabu, 09 Oktober 2024

Coretan

 

 Magnet

Oleh: Dina. S


Tempat yang berbeda dan jarak yang jauh

Mimpi pun beda tapi selaras di berbagai mata

Menggantung sajak yang melantur, mencibir realita

Saling menyeruak namun tak ingin sama


Hidupmu riuh penuh puji

Sedang aku tenggelam dalam caci

Kamu hijau dan aku kuning

Menyendiri di dekapan malam yang sunyi


Saat kita bertemu semua akan menyusut

Tidak ada hijau maupun kuning

Semua senyap karena kita bersatu

Lebih baik menjadi dua dan lupakan semuanya


Coretan

 


Jumat, 04 Oktober 2024

Coretan

 Navigasi

Oleh: Dina. S



Dia tidak pernah takut dan menghindar

Selalu peduli dan mencoba memperbaiki

Saat kau memuja jembatan yang dipakai untuk menyebrang

Dia kokohkan hanya sebagai batas perjalanan


Kepangan rambut wanita mencapai tas biru

Mengecup kening lelaki dan menjabat jari kelingkingnya

Berpesan dengan sorot matanya yang sendu


“Berotasilah bagai angin yang mengarungi udara

Dalam rongga mega, melesatlah tuk curangi senja

Dedaunan musim gugur yang dijaring laba-laba

Menjadi selimut saat malam mulai tiba”


Rabu, 02 Oktober 2024

Coretan

 Tumpah

Oleh: Dina. S


Menggulai lamunan ke dalam foto kasut garis berwarna merah

Tintanya mengering seperti karat kuning di panci yang runcing

Rindu yang hangat bak menguap dari yang erat

Mata kian sembab saat menuangkannya dalam mangkuk


Tak ingin bertemu namun hati tumpah menahan rindu

Sebuah genggaman rasa dihimpit waktu yang berselisih

Ketakutan untuk saling mengenal

Atau lebih baik acuh sebab takkan utuh


Mengganjalnya dalam tidur yang panjang

Dari satu mimpi ke setiap mimpi di dalam mimpi

Digulungnya sampai terlipat kecil

Ku timbun, hingga hujan pagi hari membawanya jauh pergi


Coretan

 - Oleh: Dina. S Ku ingin kamu hadir kembali dalam bingkai kacamataku yang tak lebih dari sejengkal ini Saat kamu ada ku tak ingin kamu perg...