Narsistik
Oleh: Dina. S
Maret lalu ia melangkah maju tanpa ragu
Tak disisipkan sebutir koma dalam kalimat seru
Jambu merah yang tergambar di tengah matanya
Melenturkan jiwanya berhari-hari
Dia berjalan tanpa batasan lalu menari
Menutupi rasa malu dengan topeng si penghibur
Beragam musik yang mengalir dalam khayalannya
Menyandera ketakutan-ketakutannya berulang kali
Dia memantik api ke dalam tumpukan balok kayu
Menenggelamkan pandangannya ke dalam perapian
Mencoba berjabat dengan asap yang terhuyung
Percikan api menyalak celah jemari tak menciutkannya
Berlari dalam hujan yang semakin riak
Tak bisa diam meski di tengah toko yang ramai
Menangis di tengah hujan lalu mencoba memeluknya
Namun setelah hujan reda, dia menyeringai seperti serigala
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.