Oleh: Dina. S
Dia mengembara ke dalam hutan, menaiki tebing yang curam. Lalu memanah ke arah hamparan langit yang luas.
Dia tak pernah mengadu pada siapapun tentang rasa sakitnya. Entah dijadikan bahan gurauan atau dimanfaatkan. Dia pun selalu dipandang sebelah mata oleh orang tua dan gurunya. Meski dia menghindari orang-orang yang memungkinkan untuk menyakitinya. Tapi tetap saja, mereka selalu datang dengan dalih meminta bantuan yang akhirnya merundungnya kembali.
Puluhan tahun ia dijadikan tempat untuk mencari inspirasi. Di mana kurangnya kasih sayang orang tua semenjak masa sekolah, rasa sakit dan ketidakpedulian dia terhadap hidupnya. Menginspirasi seorang penulis yang akhirnya dibuatkan berbagai karya dan berhasil mendapatkan banyak penghargaan. Sayangnya penulis itu tidak pernah sekalipun menyambangi untuk sekedar permintaan maaf atau terimakasih karena keturut sertaan dia mengantarkan penulis itu menjadi seorang yang dipandang oleh dunia.
Kepolosan dan kurang cakapnya ia menghadapi berbagai kemelut hidup di kota yang kecil, padat dan sumpek. Membuat dia dijadikan budak sedari kecil oleh baik teman-teman maupun lingkungannya. Untuk menambah uang saku mereka, berbagai aktivitas dia direkam bersama sisi emosionalnya. Kemudian mereka menjualnya di berbagai situs dunia maya. Selain mendapatkan limpahan rejeki, tetapi kesalahan mereka pun ditutupi karena keberadaan dia.
Drama selanjutnya, ia disulitkan dalam mencari pekerjaan. Setiap kali ia mendapatkan pekerjaan, rekaman dari teman-temannya selalu menjadi ancaman. Dia kembali bahkan semakin diperbudak, pelecehan oleh orang-orang yang datang berkedok romansa pun ia rasakan.
Sampai pada satu titik dia ingin ditolong oleh seseorang tetapi setelah bertemu orang yang bisa mengatasi masalahnya, orang tersebut malah ikut terpengaruh oleh orang-orang yang terlebih dahulu mengenal dia. Sang penolong pun menjadi manusia yang serupa selayak mereka yang memanfaatkan kehidupan pribadi beserta perasaannya.
Dia bertemu manusia setengah kuda di tepi sungai. Lalu dia meminta untuk bertemu kakek dan neneknya. Dia diperintahkan untuk menutup mata, hujan pun datang dengan deras mengguyur seluruh tubuhnya.
Dia tak pernah menyerah, selalu bertekad untuk bisa bertemu dan diselamatkan oleh seseorang dari lingkaran yang membelenggu kebebasannya. Dia pula tak pernah ragu untuk masuk ke dalam lingkungan baru yang diharapkan bisa menerimanya, mendengarkan dan saling bertukar pikiran. Namun, kehidupan yang demikian tidak pernah ada. Kenyataannya sama sekali tidak ada yang mengerti dia, sebaliknya mereka selalu melakukan hal yang sama. Pikiran, pola tingkah mereka yang berulang akhirnya meramu, menenggelamkan dia ke dalam lautan angan-angan.
Dia duduk berdua di atas batu bersama wanita cantik bersirip, setelah ditolong karena percobaan menyelam ke dalam lautan. Kemudian setelah kepanikan mereda, mereka berenang bersama ke sisi kapal. Wanita cantik bersirip itu kemudian bernyanyi sambil memandang pangeran yang sedang berdansa bersama putri di bawah langit yang di penuhi bintang-bintang.
Kehidupan yang ia anggap sempurna, hanyalah mimpi-mimpi indah yang mengalun di sepanjang malam. Meskipun ada, nyatanya kehidupan itu palsu dan sesaat saja. Mereka tidak nyata ataukah kehidupan ini pun tak pernah ada?
"Jutaan sel yang saling mengisi, membuatku untuk memulai semua kembali dari titik awal. Seperti biasa setiap pagi, ku panah langit agar ia merasakan sakit yang sama denganku meski setitik. Ku tutupkan mata, agar aku merasakan bagaimana derasnya hujan yang serupa dengan tangisku. Kupekikkan suara hati ini, seperti mencoba melucuti bintang-bintang"
Dalam selimut tebal, dia tertidur lalu bermimpi. Pertemuan dengan manusia bersayap menutupi kisah ini. Dalam mimpi, ia meminta kembali apa yang ia inginkan. Yaitu keluar dari lingkaran yang membelenggu kebebasannya. Manusia bersayap itu hanya tersenyum dan berulang kali menghantarkan lingkaran itu saat dia mengutarakan harapan yang sama.
-Selesai-
