Selasa, 14 Oktober 2025

Coretan

Kenangan
Oleh: Dina. S

 Wanita yang menjerit kemarin, kini dia menanggalkan pakaiannya di bawah lorong. Dia biarkan dirinya terendam air yang dingin. Menderetkan kenangan dalam awan-awan tipis karena tak ada satu dari mereka yang inginkan untuk lenyap meski sekejap. Membiarkannya membara separuh waktu lalu kembali terselip dalam butiran hujan. Berakhir meresap, menggeburkan tanah bersama bunga yang mekar cuma satu hari.

 Kenangan itu dibiarkan tumbuh menjadi penenun di taman bersama bunga. Dia tetap membisu hingga membiarkan serangga melumatinya. Saat ia jerat tubuh serangga seperti seekor pengerat, dia hentakkan kaki serangga itu lalu membiarkan sisanya ikut bersama.

 Angin tipis mengantarkannya dalam sebuah dahan. Tampak juga burung yang riang dengan cacing lembut di mulutnya. Lalu hinggap berjajar dengan serangga yang terhipnotis kenangan yang menjalarnya. Riuh yang semakin terdengar dari kicauan anak-anak burung membuat serangga terbangun. Dengan mata sendu dia mencoba menjauh dengan kepakan sayapnya yang tiba-tiba rapuh. Begitu lemah membuatnya tertangkap oleh burung tanpa iba.

 Jauh serangga itu masuk ke dalam tenggorokan hingga meleleh dengan cairan asam dalam perut burung. Kenangan itu berpindah dan burung itu tak ada rasa jenuh terus berkicau dengan anaknya sepanjang hari. Baginya menelan serangga yang sendu seperti suplemen pagi hari.

 Kenangan itu berpindah-pindah dari satu tempat, menuju wadah lalu pergi dan pasrah ke dalam raga tiap raga tak tahu waktu. Dia takkan pernah berakhir juga tidak akan pernah musnah. Seperti sebuah rekaman lagu, yang terus-menerus mencoba menjebak insan dalam satu rasa yang seolah sama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Coretan

Influenza Oleh: Dina. S Terkuras habis tenagaku Untuk menahanmu yang ingin pergi Ku tukar duniaku yang sepi Agar warnamu tak lagi ditutupi B...