Secuil Kisah Gadis Berambut Hitam
Oleh: Dina. S
Gadis berambut hitam itu duduk di tepi gang sempit. Darah berceceran dari kedua daun telinganya. Matanya juga tampak lelah disertai lengan yang biru lebam. Diusapnya dada yang penuh dengan rasa sesak di seluruh rongga.
Penyesalan tanpa henti benar-benar membuatnya enggan untuk beranjak dari gang sempit itu. Yang ada dia sibuk melumati kepingan kenangan yang membekas. Tiada seorang pula yang iba lalu berbagi kasih, karena mereka pun sama sibuknya. Berhenti, berdesak-desakan di seluruh gang sempit.
Harapan yang pernah hadir menjadi bunga dalam mimpinya setiap malam. Dia berubah samar sebelum sirna, agar bisa direnungkan kembali oleh si gadis di dalam kamar. Inginnya yang serupa untuk saling erat dalam genggaman saat melewati gang sempit.
Harapan itu sama terangnya dengannya, aura mereka indah hampir menyaingi rembulan di tengah malam. Namun, realita yang keras tak rela gadis itu memeluk harapan itu lebih lama. Dia berubah seperti serigala yang mengoyak rusa di ujung tebing yang dingin. Kemudian berlalu untuk menjadi benalu di tempat semula.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.